logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Maret 2007 NASIONAL
Line

MUSIBAH Mereka yang Selamat dari Musibah Garuda (1)

Lihat Asap, Langsung Pilih Melompat


SM/Achmad Hussain LUKA RINGAN: Silvia dan Ferry hanya luka ringan, setelah berhasil menyelamatkan diri dari pesawat Garuda yang terbakar.(57)

Kecelakaan pesawat Garuda Boeing 737-400 di Bandara Adi Sucipto menyisakan kenangan buruk bagi puluhan penumpangnya yang selamat. Mereka pun tak henti-hentinya memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan karena masih diberi keselamatan. Berikut laporannya.

SILVIA Angela Liong (26) warga Jalan Diponegoro 27 Klaten, mempunyai kenangan buruk atas musibah terbakarnya pesawat Garuda Boeing 737-400 GA 200 di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, kemarin. Bersama suaminya Fery (27), dia semula hendak pulang setelah dari Jakarta. Mereka memutuskan menumpang pesawat itu menuju Yogyakarta.

Namun, menjelang mendarat keduanya sudah merasakan hal tidak baik dari pesawat buatan AS itu. Saat hendak landing pesawat mulai ragu. Dugaan mereka tepat, begitu manelusuri landasan pesawat seperti terhempas. ''Kalau tidak salah, pesawat terhempas tiga sampai empat kali.Saya sudah merasa aneh saat itu,'' ujar wanita cantik itu. Alasannya, selama ini Garuda yang menjadi langgananya selalu mulus.

Saat mendarat aneh, asap belum terlihat. Namun saat pendaratan sudah tak lazim penumpang mulai panik. Umumnya penumpang memegang kursi erat-erat. Kepanikan dan jeritan mulai mewarnai suasana di dalam pesawat. Begitu pesawat menelusuri landasan pacu, Silvia terus memegang kursi di depannya dengan erat-erat. Untungnya dia duduk bersama suaminya di bangku nomor 23 E dan 23 F bagian belakang.

Kepanikan makin dirasakan pasangan suami istri itu ketika pesawat tak kunjung berkurang kecepatannya. Pesawat tersebut terus melaju ke timur melampaui ujung landasan. Kepanikan semakin memuncak dan pesawat terus melaju dan baru berhenti setelah melewati jalan masuk ke AAU (Akademi Angkatan Udara). Saat berhenti itulah dia mulai melihat asap putih semakin tebal. Namun dia mengaku tidak melihat api.Suaminya yang duduk di sebelahnya menyuruh membuka sealt belt. Keduanya memutuskan memilih pintu belakang yang sudah dibuka oleh penumpang lainnya.''Begitu yakin ada asap semakin tebal kami langsung melompat. Tingginya kira-kira satu meter,'' lanjut dia. Setiba di luar baru beberapa penumpang yang turun.

Loncatan reflek itu membuat wanita cantik itu terbanting ke tanah. Namun insting menyelamatkan diri terus membebal di benaknya. Bersama suaminya dia terus berdiri karena takut terinjak penumpang lain yang mulai berebut keluar. Keduanya menjauhi pesawat karena takut badan pesawat akan meledak. Saat itu belum ada petugas bandara atau regu penolong yang datang. Mereka menyingkir sejauh-jauhnya ke arah barat agar aman dari kemungkinan ledakan. Ternyata benar pesawat dilalap api semakin besar.

Kenekatan keduanya ternyata membawa mereka selamat. Keduanya hanya mengalami luka ringan di tangan dan langsung memilih pulang ke Klaten. Meski kedua kakinya juga seperti mendadak kram. Silvia mengaku dari Jakarta untuk mengunjungi keluarga sekaligus memeriksakan kandungan. Fery mengatakan, setelah pesawat menyentuh landasan, kecepatannya sama sekali tak berkurang. Fery yang duduk di dekat jendela dengan jelas melihat bahwa pesawat yang mulai dioperasikan Garuda 2002 lalu itu terus melaju. ''Goncangan baru terasa ketika pesawat menabrak pagar bandara dan menerjang tanggul. Saat itu saya hanya bisa pasrah dan pesawat berguncang-guncang tak karuan," ujar dia.(Achmad Hussain-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA