logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Maret 2007 NASIONAL
Line

Din Selamat, Mertua Meninggal karena Shock


SM/ant
  • Din Syamsuddin

''SAYA merasa diselamatkan Allah,'' tutur Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin yang lolos dari maut akibat terbakarnya pesawat Garuda B737-400 jurusan Jakarta-Yogyakarta, Rabu (7/3).

Din selamat, namun secara hampir bersamaan, mertuanya Ny Darnelis Bermawi, wafat di RS MMC Kuningan karena sakit. Setelah menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah dan masih terguncang akibat kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya tersebut, Din kembali ke Jakarta dengan pesawat untuk ikut memakamkan mertuanya.

Ibu mertua Din Syamsuddin mendadak shock begitu mendengar menantunya berada di dalam pesawat Garuda yang terbakar.

Perempuan berusia 70 tahunan tersebut lemas, kemudian pingsan saat melihat siaran televisi yang kebetulan menayangkan berita terbakarnya Garuda di Bandara Adi Sucipto.

''Baru tiga hari Ibu pulang dari rumah sakit karena sakit paru-paru dan ginjal. Saya sempat telepon beliau ketika dalam perjalanan pulang dari bandara menuju ke rumah, tapi setelah itu Ibu meninggal,'' tutur Din.

Ia bertolak ke Yogyakarta untuk menghadiri seminar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang akan dihadiri Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer. Menlu Australia akan tampil sebagai pembicara kunci pada pukul 10.00 WIB.

Ketika pesawat mendarat, dirinya baru terjaga tidur dan melihat keadaan dalam kabin gelap gulita, penuh asap dan para penumpang berteriak-teriak. Sejak dari Jakarta, semua berjalan lancar saja. Namun masalah datang menjelang pesawat akan mendarat. Saat itu, pesawat bergoyang dan terhempas dua-tiga kali sehingga Din terbangun. ''Selanjutnya spontan, saya loncat dari kursi dan lari menuju pintu darurat, karena kebetulan duduk dekat pintu darurat. Dengan refleks saya loncat dari pesawat,'' ujarnya.

Berhamburan

Menurut Din, begitu pintu darurat itu terbuka, penumpang pun langsung berhamburan keluar. ''Ketika sudah lari menjauh dari pesawat, saya melihat pesawat terbakar, dan terlihat asap mengepul di bagian depan pesawat, terutama di kelas bisnis di mana para diplomat Australia duduk.''

Dalam pesawat itu, terdapat beberapa diplomat dari Kedutaan Besar Australia dengan tujuan yang sama dengan Din.

Sehari sebelum keberangkatan, tempat duduk Din Syamsuddin sempat akan dipindah ke nomor VIP, dengan maksud agar tempat duduknya berdekatan dengan para staf Kedubes Australia. Namun, saat itu kursi VIP penuh, sehingga Din Syamsuddin tetap duduk di bangku ekonomi.

Terungkap pula, selama ini, jika bepergian Din selalu memilih duduk di dekat pintu darurat.

Setelah menjalani perawatan di RS PKU Muhammadiyah, dengan pesawat Wing Air Ketua Umum PP Muhammaditah itu bertolak ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Selanjutnya, dari Bandara Ahmad Yani menggunakan Garuda Indonesia ke Jakarta dan tiba lagi di Jakarta pukul 14.00, sehingga Rabu sore menghadiri pemakaman ibu mertuanya di Pemakaman Tanah Kusir.

''Mertua saya Darnelis Bermawi binti Thaher meninggal pada pukul 06.30 WIB di MMC,'' jelasnya.

Ibu mertua Din, sempat dirawat selama sebulan di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) dan karena kondisinya membaik, sempat dipulangkan ke rumah hingga dua hari.

Rabu pagi usai shalat subuh, kondisinya masih baik, tapi pukul 06.00 WIB tensinya naik, sehingga dilarikan ke MMC. Namun, dalam perjalanan ke MMC tersebut, ibu mertuanya menghembuskan napas terakhir.(bn,D19-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA