| Kamis, 08 Maret 2007 | NASIONAL |
Cuaca Buruk, Heli Mendarat DaruratSURABAYA-Helikopter yang mengangkut Wakil Kepala Staf TNI-AD (Wakasad) Letjen Herry Tjahjana, Rabu (7/3) siang mendarat darurat di Desa Gayam, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Langkah pendaratan darurat itu dilakukan mengingat kondisi cuaca sangat buruk. Helikopter ini mengangkut Wakasad dan rombongan dari Bondowoso menuju Kabupaten Kediri. Ada dua helikopter yang terbang mengangkut rombongan Wakasad itu. Kedua jenis helikopter itu adalah N-BELL. Helikopter mendarat darurat pukul 12.00 di lapangan depan Balai Desa Gayam, Mojowarno, Jombang. Rencananya, Wakasad beserta rombongan akan meninjau Mako Brigif XVI Kediri setelah mengunjungi Mako Yon 514 Kostrad di Bondowoso. Helikopter N-BELL dengan nomor lambung 5145 dipiloti Mayor Made Supandi. Selain mengangkut Wakasad juga mengangkut Panglima Divisi II Kostrad Mayjend Djoko Susilo, Brigjen Manurung, dan Brigjen Mujiono. Helikopter lainnya dengan nomor lambung 5128 dipiloti Kapten Putu, mengangkut Brigjen TNI Jakfar Sofyan, Brigjen Hari Kusnowo, Letkol Inf Sunaryo, Letkol Slamet, dan Letkol Subroto. Setelah kondisi cuaca membaik, helikopter itu melanjutkan penerbangan ke Kediri. Rombongan tiba di Kediri pukul 13.30. Mayor Made Supandi menyatakan, keputusan pendaratan darurat diambil karena tekanan angin sangat kencang. Normalnya tekanan angin 5-10 knot, tetapi saat kejadian mencapai 20-30 knot. "Kondisi tersebut mengakibatkan kemampuan pesawat menurun atau istilah dalam penerbangan fatique," tutur Mayor Supandi kepada wartawan. Wakasad Letjen Herry Tjahjana menyatakan, langkah pendaratan darurat dilakukan karena tak mau mengambil risiko kecelakaan saat cuaca buruk datang. Saat kejadian, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras di sekitar kawasan Jombang. Kondisi awan cukup pekat, sehingga menghalangi pandangan pilot. "Karena cuaca sangat tak memungkinkan, kami memutuskan turun sebentar. Saat itu hujan sangat deras," jelas Hari Tjahjana kepada wartawan. Untungnya lapangan yang digunakan untuk pendaratan darurat cukup luas, sehingga dua helikopter bisa mendarat dengan mulus di lapangan tersebut. Selanjutnya, rombongan Wakasad sempat beristirahat sekitar sejam sebelum melanjutkan penerbangan ke Kediri. Lion Air Pesawat Lion Air 793 jurusan Jakarta-Ujung Pandang juga mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Namun, pendaratan itu dilakukan sang pilot, karena ada cuaca buruk. Penjelasan ini disampaikan Airport Duty Manager (ADM) Mulyono saat dihubungi pukul 19.00 WIB, Rabu (7/3). "Saat terbang di atas Surabaya, ternyata jalur udara Ujung Pandang-Jakarta buruk, sehingga pesawat harus dialihkan ke Surabaya sambil menunggu cuaca kembali normal," kata Mulyono. Pesawat Lion Air itu mendarat pukul 15.00 WIB. Setelah cuaca kembali normal, pesawat kembali take off dari Juanda menuju bandara yang dituju. "Jadi, pesawat bukan mendarat darurat atau mengalami kerusakan. Tapi, karena cuaca buruk saja," ujar dia. Akhir-akhir ini hujan deras dan angin kencang masih menghantui Indonesia. Apalagi badai Jacob tengah mengamuk. Menurut keterangan pers dari BMG pada hari Rabu (7/3) posisi badai Jacob ada di 12.5 LS, 107.5 BT (sekitar perairan sebelah tenggara tenggara Pulau Chrismast). Arah gerak: barat-barat laut dengan kecepatan 7 knot (12-13 km/jam) dan kekuatan 50 knot (92-93 km/jam). Prediksi tanggal 8 Maret 2007 (pukul 00.00 UTC): Posisinya di sekitar perairan sebelah tenggara Pulau Chrismast. Arah gerak barat-barat laut dengan kecepatan 7 knot (12-13 km/jam) dengan kekuatan 50 knot (92-93 km/jam). Di Indonesia, badai tersebut berdampak tidak langsung terhadap cuaca yang 'berpotensi hujan lebat disertai angin kencang lebih dari 20 knot di sekitar Sumatera bagian tengah dan selatan, pesisir barat dan timur Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Bali hingga NTT dan Sulawesi bagian selatan, Maluku tengah dan selatan serta Papua bagian selatan. Ban Kempes Pesawat Asia Air QZ 7507 jurusan Medan-Jakarta mengalami delay selama 2 jam. Penyebabnya, salah satu ban pesawat diketahui kempes saat akan berangkat. Sedianya pesawat tersebut akan terbang menuju Jakarta dari Bandara Polinia Medan pukul 13.25 WIB, Rabu (7/3). Namun saat dilakukan pengecekan akhir, salah satu ban pesawat diketahui kempes. "Menurut peraturannya ban tersebut memang harus diganti," kata administrator Bandara Polonia, Yuli Santoso. Saat diukur, tekanan udara ban tersebut hanya 170 psi. Padahal seharusnya tekanan udara ban pesawat adalah 200 psi. Akhirnya ban pesawat Air Asia tersebut diganti dengan ban milik Garuda Maintenance Facilities di Bandara Polonia. Namun proses otorisasinya membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Setelah ban terpasang, pesawat tersebut lepas landas pukul 15.25 WIB.(G14,dtc-41) |