logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Maret 2007 NASIONAL
Line

17 Korban Belum Teridentifikasi

  • Garuda Terbakar di Yogyakarta
  • SBY: Selidiki Kemungkinan Sabotase

GARUDA TERBAKAR: Sejumlah petugas berusaha memadamkan pesawat Garuda Indonesia jenis Boeing 373-400, yang terbakar 500 meter di luar Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, Rabu, (7/3). Pesawat nahas ini mengangkut 133 penumpang. (57)

YOGYAKARTA-Pesawat Garuda jenis Boeing 373-400 nomor penerbangan GA 200 meledak dan terbakar ketika mendarat di Bandara Adi Sucipto, pukul 06.57 kemarin.

Berdasarkan data semalam yang dirilis oleh Rumah Sakit Sardjito dan Tim Forensik Mabes Polri, sedikitnya 21 orang tewas. Dari jumlah penumpang 133 orang itu, 95 orang mengalami luka-luka. Adapun tujuh awak pesawat dikabarkan selamat, termasuk pilot dan kopilotnya.

Di ruang Forensik RS Sardjito, tujuh belas jenazah belum teridentifikasi, sedangkan empat di antaranya sudah dikenali. Mereka itu, Suwarni (77) dan Oemaryati (73), keduanya warga Terban Yogyakarta.

Selain itu Zaenah Sismadi (73) warga Jogonalan, Klaten, Jateng dan Olga yang baru dikenali namanya, sedangkan umur dan alamatnya belum dikenali. Dengan demikian hingga pukul 23.00 WIB semalam 17 korban tewas belum teridentifikasi.

Rumah sakit tersebut merawat empat pasien, dua di antara warga negara Australia. Warga asing itu, Chintya Banam (34) mengalami luka bakar dan patah tulang punggung dan Roger Tallboys (63) juga mengalami luka bakar serius. Adapun dua lainnya, Prof Murni Indari Muh Hilal asal Bogor dan Dwijo dari pegawai Depkes RI.

Sedangkan korban luka lainnya, 11 orang masih dirawat di RS Bethesda, 8 orang di RS Panti Rapih dan dua orang di rawat di Jogya Islamic Hospital (JIH). Sedangkan yang lainnya hanya rawat jalan dan boleh pulang.

Keluarga Korban

Semalam sebagian keluarga korban masih memadati Ruang Forensik RS Sardjito. Isak tangis keluarga korban mengiringi proses identifikasi di tempat itu.

Mereka terlihat membantu petugas identifikasi dengan menyebutkan beberapa ciri-ciri korban dan aksesoris yang dipakai.

Doktor Haidar Nasir, Ketua PP Muhammadiyah, juga hadir di ruang itu untuk mencari temannya seorganisasi, Doktor Maskur Wiratmo yang juga Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Selain itu beberapa staf humas universitas itu juga ikut mencari mantan rektor Prof Kusnadi Harjo Sumantri. Dua orang penting itu menjadi bagian dari korban yang belum bisa teridentifikasi, dikabarkan profesor itu mengalami struk sehingga kesulitan berjalan untuk menyelamatkan diri.

Menurut Tim Forensik Mabel Polri yang juga Tim Disaster Victim Identivication Interpol, Kombes Slamet Purnomo, pihaknya kesulitan melakukan identifikasi karena kondisi mayat sudah hangus. Baju dan aksesorisnya sudah gosong, begitu juga dengan muka dan sekujur tubuhnya.

''Salah satu cara yang kita tempuh adalah identifikasi dari gigi dan tes DNA. Jika menggunakan gigi keluarga korban jarang yang memiliki data struktur gigi, paling hanya dengan kesaksian mereka. Kalau itu tak bisa dilakukan tes DNA,''katanya.

Tiga menit sebelum Pesawat Garuda landing di Bandara Adisucipto Yogyakarta, Nuniek Sufitrhi (50) salah seorang penumpang merasakan ada kejanggalan. Mesin seperti tak lagi meraung-raung dan ada hentakan ketika pesawat turun ke bawah. Tak lama kemudian, ...bruuuk.. blunng hentakan keras itu mengakibatkan penumpang panik dan berteriak histeris.

''Suasana sangat mencekam, saya merasakan pesawat yang melaju di atas landasan itu oleng dan lama tak terhenti. Setelah terdengar benturan keras barulah pesawat itu berhenti,''katanya.

Perempuan yang sehari-hari bekerja di Direktorat Jenderal Pengembangan Permukiman Cipta Karya DPU Pusat itu langsung melepas sabuk pengaman dan berlari ke pintu darurat. Dia juga sempat menyelamatkan temannya sekantor Rina Farida (48). Setelah berhasil keluar dari pesawat melalui pintu darurat dan berjalan sekitar 500 meter pesawat meledak.

''Mendengarkan ledakan itu saya terjatuh karena terkejut. Tapi bagaima caranya berusaha untuk bangkit dan terus berjalan,''katanya.

Dia menyaksikan ledakan itu terdengar sampai tiga kali, dan terlihat asap membumbung tinggi. Saat itu yang dipikirkan, tiga temannya yang tak terlihat keluar bersama yaitu Totok Priyanto, Edi Sukayo dan Dewi Riyana. Sampai semua penumpang selamat dan luka-luka dievakuasi ke bandara tak terlihat. Dia ke Yogyakarta bersama teman-temannya bermaksud menyosialisasikan regulasi peraturan penataan wilayah.

Sampai kemarin petang dia masih menunggu di Ruang Forensik untuk membantu mengenali korban. Dia yakin tiga temannya ikut dalam korban yang belum teridentifikasi karena setelah dicari di seluruh rumah sakit tidak ada.

Di sudut lain dari ruangan itu terlihat Wiku Suprapti (60), warga Wonosari, Gunungkidul. Ia meneteskan air mata. Nenek itu mencari putranya Totok Priyanto, yang dikabarkan belum teridentifikasi. Sambil terus mengusap wajahnya dengan sapu tangan, dia mencoba menjelaskan kepada petugas forensik ciri-ciri anaknya.

''Anak saya datang ke sini untuk mengikuti acara di Yogyakarta, rencananya juga mau menengok keluarga. Tapi kok jadinya malah seperti ini,''katanya sambil terus menutup wajahnya dengan saputangan untuk membendung air matanya.

Sebelum perisitiwa naas itu, dia dalam tujuh hari terakhir ini sering mimpi buruk setelah shalat tahajut. Mimpi buruk itu, tak bisa diceritakan tapi setelah mimpi dia merasa sedih. Ternyata, kesedihan itu terus berlanjut sampai kini.

Di ruang Forensik RS Sardjito juga beredar kabar tentang pesawat naas itu membawa jenazah dari Jakarta untuk dibawa ke Yogyakarta. Salah seorang anggota Forensik Prof Sudibyo, membenarkan informasi itu, tapi secara resmi belum bisa dipertanggungjawabkan.

Faktor Nonteknis

Presiden SBY pun menginstruksikan Menko Polhukkam Widodo AS untuk melakukan investigasi menyeluruh, termasuk investigasi yang sifatnya nonteknis atau kemungkinan adanya sabotase terkait peristiwa terbakarnya pesawat Garuda GA-200 di Yogyakarta.

''Presiden menginstruksikan untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kecelakaan ini. Kepada Menko Polhukam, Presiden juga memerintahkan untuk melakukan investigasi non-teknis,'' kata Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dalam konferensi pers di Kantor Kepresidenan, kemarin.

Namun, perintah Presiden SBY untuk menyelidiki kemungkinan sabotase dalam kecelakaan pesawat tersebut disesalkan anggota DPR. "Negara ini kan punya KNKT, kenapa nggak nunggu penyelidikan dulu. Presiden tidak boleh melakukan hal itu. Itu kurang pas, karena masyarakat akan menilai Indonesia tidak aman," kata Ngabalin, anggota Komisi I DPR, kemarin.

Menurut Juru Bicara Kepresidenan Andi A Mallarangeng, yang dimaksud faktor-faktor nonteknis adalah yang di luar bidang kerja Komisi Nasional Keselamatan Transportasi. ''Jadi maksudnya itu faktor-faktor yang tidak berhubungan dengan teknis penerbangan baik yang disengaja maupun tidak,'' katanya.

Ditanya dugaan apa yang menyebabkan Presiden memerintahkan menyelidiki faktor non teknis, apakah ini berarti ada dugaan sabotase, Andi tidak bersedia menjawabnya. Dia hanya mengatakan, pemerintah menginginkan investigasi yang bersifat menyeluruh.

Sudi mengatakan, Presiden memutuskan menunda kunjungan kerjanya ke Sumatera Utara dan Sumatera Barat berkaitan dengan terjadinya kecelakaan Garuda di Yogyakarta. Semula Presiden akan melakukan kunjungan kerja ke Sumut, namun dengan adanya bencana gempa di Sumbar, Presiden lalu memutuskan untuk mengunjungi Sumbar.

''Pada saat akan berangkat ke Padang, lalu ada laporan perkembangan di Yogyakarta. Presiden memutuskan memprioritaskan untuk tetap di Jakarta guna ntuk berkoordinasi intensif dengan menteri yang sudah berada di lokasi-lokasi bencana,'' kata Sudi.

Bisa Terjadi

Kemungkinan adanya sabotase pada kecelakaan pesawat Garuda Boeing 737-400 nomor penerbangan GA 200 dengan register PK GZC jurusan Jakarta ke Yogyakarta kemarin pagi bisa saja terjadi. Hal ini akan terkuak bila kotak hitam sudah ditemukan dan dilakukan pemeriksaan.

Menurut pengamat intelijen Wawan Hadi Purwanto, sabotase bertujuan untuk tujuan ekonomi dan keamanan. Tujuan ekonomi adalah karena persaingan bisnis. Sedangkan tujuan keamanan adalah untuk melemahkan kemampuan pemerintah.

''Kita tidak bisa menyebut pernyataan Presiden (soal penyelidikan non teknis-red) terlalu dini. Pernyataan itu bisa bernilai politis. Kan kebetulan dalam pesawat itu ada rombongan Menlu Australia. Alexander Downer memang pakai pesawat khusus. Jadi Presiden punya perhatian khusus untuk menjaga hubungan kenegaraan,'' ujarnya menjawab Suara Merdeka semalam.

Menurut Dosen Institut Intelijen Negara ini, saat ini memang banyak isu-isu penting yang bisa dikemas untuk penciptaan instabilitas negara, misalnya isu reshufle kabinet. ''Bisa saja sengaja dihembuskan isu sabotase untuk mengganti pejabat tertentu. Pejabat dimaksud adalah pada bidang transpotasi.''

Tidak tertutup kemungkinan, lanjut Wawan Hadi Purwanto, kecelakaan tersebut merupakan petaka murni. Kesalahan bisa terjadi karena faktor manusia dan teknologi. Hal ini akan terbuka bila telah dilakukan penyelidikan menyeluruh. ''Memang harus ada Satgas Transpotasi Nasional.''

Dikatakan, pihak Garuda tidak bisa dipersalahkan secara mutlak pada kecelakaan kemarin. Mestinya pihak Boeing yang menyewakan pesawat tersebut juga diminta turut bertanggungjawab.

''Korban bisa ajukan gugatan class action ke Boeing. Perusahaan itu harus jelaskan standar keselamatan. Dunia tranpotasi Indonesia akan runyam kalau tidak ada kejelasan standar keselamatan,'' ujar Wawan Hadi Purwanto.(H33,won, F4,D3, dtc-41,49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA