logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Maret 2007 EKONOMI
Line

Bisnis Pertamina Digoyang Petronas

DENPASAR-Posisi Pertamina sebagai pemasok BBM dan pelumas Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai digoyang Petronas (BUMN minyak Malaysia). Namun dua BUMN Indonesia itu, akan terus bekerja sama selama mendapatkan manfaat tinggi untuk kesejahteraan bangsa. Jika asing yang menjadi pemasok, maka keuntungan tidak dinikmati bangsa Indonesia.

''Sinergi PLN-Pertamina sudah 60 tahun. Di tengah kondisi bangsa seperti saat ini, dan tekanan asing dengan alasan globalisasi, ada yang tidak menyukai kita menjadi kuat dan mandiri,'' kata Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina, Hanung Budya, kemarin.

Sinergi dua BUMN itu merupakan bisnis luar biasa besar. Hanung menduga ada kekuatan asing yang ingin mengambilnya untuk keuntungan sendiri.

Meski Pertamina tidak antipersaingan, tetapi diakui cukup berat bersaing dengan para pemasok asing. ''Pertamina tak bisa dipertandingkan dengan Petronas.''

Alasannya posisi Petronas di Indonesia bukan sebagai perusahaan, melainkan trading company. Begitu juga dengan Shell. Mereka tidak membutuhkan biaya besar untuk mengelola perusahaan trading. Sementara Pertamina adalah perusahaan berdasar asset based yang harus membiayai kilang, depot dan biaya distribusi.

Sampai Parlemen

Nasri Sebayang, deputi Direktur Pengelolaan Kontrak IPP PT PLN mengatakan, isu sensitif agar pemenuhan BBM dan pelumas di PLN ditenderkan, sudah mengemuka sejak 2005.

''Bahkan sudah sampai ke parlemen. Tentu nantinya akan ada pertimbangan dari sisi bisnis, sisi ekonomis termasuk sisi lain untuk mendapatkan keputusan terbaik.'' PLN, kata dia selain menghadapi tingginya biaya operasi, juga harus mendapatkan keuntungan.

Terus meningkatnya harga BBM menyebabkan pemerintah harus menaikkan subsidi hingga Rp 30 triliun. Belum lagi tarif dasar listrik sudah 4 tahun tak naik menyebabkan PLN merugi. Tahun 2006 PLN rugi Rp 3 triliun.

Saat ini Indonesia berada diambang krisis ketenagalistrikan. Kecuali pulau Jawa, seluruh Indonesia sudah dinyatakan sebagai daerah krisis. Artinya sudah terjadi pemadaman, atau dua tahun lagi akan terjadi pemadaman. Untuk mengatasi krisis sampai 2009, saat ini PLN sangat gencar melaksanakan program pemasangan pembangkitan dengan cepat.

Misalnya, pembangkit diesel yang akan menggunakan bahan bakar TFO. Bila dihitung penambahan bahan bakarnya Rp 3-Rp 5 triliun.

''Kesuksesan program ini, kami sangat membutuhkan bantuan Pertamina,'' ungkapnya.

Tanpa BBM, kata Nasri, PLN tak dapat menjalan fungsinya sebagai penyedia tenaga listrik. Karena itu hubungan sinergi antara Pertamina dan PLN harus terus menerus dilaksanakan, dikembangkan, dan ditingkatkan. ''Itu prinsip dasar yang ada,'' tegasnya. (wa-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA