logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 08 Maret 2007 EKONOMI
Line

Klinik Marketing

Sulitnya Mengubah Watak

Pertanyaan : SAYA baru saja menerima estafet kepemimpinan dari orang tua, untuk menangani beberapa perusahaan keluarga. Usaha kami terdiri atas berbagai unit usaha yang beragam, mulai dari SPBU, mini market, penjualan gas, hingga ke rumah makan. Saya baru saja selesai kuliah S2, namun terus terang saya masih bingung menerima tugas yang sangat mendadak ini.

Beberapa bulan lalu, saat mulai bekerja, saya melihat beberapa karyawan yang sudah berada pada posisi manajer terlihat agak kurang percaya terhadap kemampuan saya. Secara pribadi saya mengakui kekurangan itu, yakni tidak punya pengalaman. Bahkan beberapa manajer menjelaskan usaha yang dikembangkan orang tua, bukan karena sekolahnya yang tinggi, melainkan naluri bisnisnya yang hebat.

Sewaktu saya ajak diskusi terbuka, rata-rata mereka tidak mau memberikan masukan, hanya mengatakan mereka akan mendukung keputusan saya. Pusingnya, begitu langkah strategis saya buat, semua tidak berjalan dengan energi sendiri, tapi harus saya dorong dan harus saya monitoring terus-menerus.

Jujur, saat ini saya sedang mengalami tekanan luar biasa. Di satu sisi harapan orang tua, selepas lulus S2 saya bisa langsung menumbuhkan usahanya menjadi lebih besar, di sisi lain karyawan senior begitu sulit percaya pada saya. Lebih sulit lagi, mereka semua tahu tentang yang benar, namun tidak memiliki energi untuk melaksanakannya.Tolong beri saya solusi yang akurat.

Nugraheni, Semarang

Jawab:

Warren Benis, salah satu pakar HRD dunia pernah membuat buku yang isinya menceritakan bagaimana sulit mengatur makhluk yang bernama manusia. Kita seperti memelihara kucing dan anjing, satu dan yang lain tidak bisa diperlakukan sama. Dalam ilmu pemasaran karyawan adalah internal customer. Jadi mau tidak mau, sesulit apa pun, kita harus berusaha memahami perilakunya, kemudian memengaruhi pikirannya agar sesuai keinginan pikiran kita. Karena kalau Anda gagal mengelola pelanggan internal, maka sulitlah untuk mengelola pelanggan eksternal. Repot ya? Enggak juga, asal Anda mau dan mampu mengidentifikasi masalah yang semuanya pasti bisa Anda atasi.

Rhenald Kasali dalam ''Re-Code your change DNA'' mencontohkan tentang beberapa bank yang merekrut manajer-manajernya dari alumnus Citybank, ternyata juga tidak sesukses yang dibayangkan. Karena para manajer ini berpikir dan bekerja persis seperti ketika di Citybank, sementara di tempat baru ini insentive, culture, dan resources-nya berbeda jauh. Jadi kepintaran yang baru saja Anda peroleh di bangku S2, jelas belum cukup. Dalam perusahaan ada pikiran individu, organisasi, dan perusahaan. Semua karyawan senior sudah memiliki bentukan keyakinan sendiri yang dibangun sejak orang tua Anda mendirikan perusahaan. Jadi, kalau tiba-tiba mau buang bentukan lama tanpa memahami bentuk lamanya, niscaya Anda akan menghadapi pemberontakan dan perlawanan yang hebat. Anda siap?

Salah satu ciri orang pemasaran, yakni fleksibilitas (keluwesan dan kemampuan beradaptasi), sehingga ia terlihat seperti danau teduh yang mampu menampung luapan air dari berbagai aliran. Ada beberapa resep mengelola perbedaan generasi dalam perusahaan. Pertama, tiap-tiap generasi harus menyadari adanya kekurangan mereka.

Generasi tua harus menyadari bahwa generasi muda sekarang ingin serba instant, cepat, radikal, dan kadang irasional. Generasi muda harus menyadari bahwa meskipun memiliki pengetahuan yang lebih luas, mereka tak memiliki pengalaman ñ yang hanya dimiliki oleh generasi sebelumnya! Jadi, keduanya harus mau saling berbagi.

Sharing - berbagi bukanlah pekerjaan gampang! Bisa jadi sebagai putra mahkota, Anda sulit untuk mau íímendengaríí suara-suara senior. Tapi kalau Anda hanya bisa mengkotbahi mereka, sebenarnya kotbah itu sama sekali tak masuk dalam pikiran dan hati mereka. Nah, di sinilah Anda perlu belajar tentang sifat seorang pemasar: íírela melayani.íí Mendengarkan bukan didasari oleh nafsu ingin menanggapi, tetapi ingin memahami. Pahami dulu pikiran individu, peliharalah pikirannya dengan baik, baru kemudian gembalakan pikiran mereka sesuai dengan tujuan yang Anda tetapkan. Nah, di sini Anda mulai paham kan, bahwa yang Anda lakukan selama ini; langsung memerintah para senior untuk berjalan ke tempat yang Anda tetapkan. Jadi jangan heran kalau ada yang cuma diam, ada yang tetap kokoh di posisinya, bahkan ada pula yang cuma teriak-teriak sambil menggerutu.

Kalau dianalogikan dengan produk, Anda belum branded seperti orang tua Anda. Saat ini Anda lagi masuk dalam proses branding, ketika konsumen masih mau menguji kualitas Anda. Wajib hukumnya bagi Anda untuk terus berjuang memenuhi keinginan dan harapan konsumen, melalui kemampuan mendengar, kemampuan mengelola emosi, dan kemampuan menyelesaikan masalah. (33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA