| Selasa, 06 Maret 2007 | INTERNASIONAL |
Ladang Minyak Libia Jadi Rebutan Perusahaan AsingTRIPOLI - Setelah 20 tahun terisolasi, Libia kini menjadi salah satu tempat tujuan eksplorasi minyak. Sejumlah perusahaan minyak mulai berebut kontrak pengeboran ''emas hitam'' di negara Afrika utara itu. ''Ini merupakan perlombaan untuk memperebutkan minyak kami,'' kata Presiden Direktur Perusahaan Minyak Nasional Libia Shukri Ghanem kepada AFP. ''Kami seakan-akan sedang mengadakan olimpiade. Yang terbaik bakal menjadi pemenangnya.'' Perusahaan-perusahaan minyak seluruh dunia telah mengajukan penawaran kepada Tripoli. Mereka mengiming-imingi keuntungan terbesar yang dapat diperoleh Libia. Libia tidak lagi menjadi negara yang terkucil setelah PBB mencabut sanksi-sanksinya terhadap negara itu. Perkembangan itu terjadi menyusul keputusan dramatis Moammar Gaddafi pada Desember 2003 untuk mengakhiri program senjata pemusnah massalnya. Sebagai anggota OPEC (organisasi negara pengekspor minyak), Libia merupakan penghasil minyak terbesar kedua di Afrika. Rata-rata produksinya 1,6 juta barel per hari. 100 Miliar Barel Cadangan minyak mentah Libia memiliki kualitas tinggi, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 42 miliar barel. Namun poyek-proyek eksplorasi baru menargetkan dapat menemukan cadangan minyak sampai 100 miliar barel di Libia. ''Libia merupakan salah satu dari sedikit negara yang memiliki zona eksplorasi sangat luas. Boleh dikatakan, zona eksplorasi sama sekali belum terjamah,'' kata Philippe Malzac, direktur perusahaan minyak Prancis Total yang beroperasi di Libia. Pada 2005, perusahaan-perusahaan asing memperoleh kontrak eksplorasi minyak Libia. Itu merupakan kerja sama pertama Libia dengan perusahaan minyak asing, selama 40 tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan Amerika, seperti Chevron-Texaco dan Occidental Petroleum, mendominasi kontrak-kontrak minyak pada putaran pertama itu. Namun pada putaran kedua, perusahaan-perusahaan Asia mulai unggul. Mereka memperoleh 10 dari 19 izin eksplorasi minyak di Libia. Ghanem dalam waktu dekat akan membuka tender untuk putaran ketiga. ''Dalam dua tahun, lebih dari 40 perusahaan dari seluruh dunia akan memperoleh izin eksplorasi. Perusahaan dari Amerika Serikat, Inggris, Italia, Prancis, Rusia, China, Taiwan, India, Aljazair, Spanyol, Kanada, bahkan Indonesia ambil bagian dalam proyek eksplorasi ini,'' ujarnya. (afp-ben-26) |