logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Maret 2007 INTERNASIONAL
Line

China Tentang Upaya Kemerdekaan Taiwan

BEIJING - Imbauan Presiden Chen Shui-bian agar Taiwan mengintensifkan upaya memerdekakan diri dikecam keras oleh China, kemarin. Beijing menyatakan, siapa saja yang berupaya memisahkan Taiwan dari China akan dianggap ''penjahat dalam sejarah''.

''Jangan dengarkan komentar pemimpin lokal Taiwan,'' kata Menteri Luar Negeri China Li Zhaoxing kepada wartawan Taiwan di Beijing. ''Siapa saja yang ingin memisahkan wilayah itu akan menjadi penjahat dalam sejarah.''

Dalam pidatonya Minggu lalu, Chen mengimbau rakyat Taiwan untuk meningkatkan upaya memerdekakan pulau itu dan mengubah nama resminya. Taiwan dulu dikenal dengan nama Formosa. Saat ini, nama resminya adalah Republik China.

Selain itu, Chen menyerukan warganya untuk membuat konstitusi baru dan menggiatkan pembangunan. Pidato Chen itu juga membuat khawatir sekutu utamanya, Amerika Serikat, yang berusaha mempertahankan status quo mengenai sengketa Taiwan.

China mengklaim Taiwan sebagai provinsinya sejak perang saudara berakhir pada 1949. Dampak perang itu, kaum nasionalis (Kuomintang) melarikan diri ke Taiwan. Beijing mengancam akan melakukan agresi militer, apabila Taiwan memproklamasikan kemerdekaannya.

Sikap Militer

Kemarin, militer China menegaskan kembali sikap mereka mengenai Taipei. ''Tentara Pembebasan Rakyat dengan tegas menentang kemerdekaan Taiwan. Kami akan mengamankan persatuan Republik Rakyat China,'' kata Chang Guixiang, utusan Tentara Pembebasan Rakyat dalam sidang parlemen di Beijing.

Shi Si Hao, ketua Federasi Persahabatan Taiwan-China, mengatakan pidato Chen itu tidak bermanfaat bagi upaya mempererat hubungan Taipei-Beijing. ''Saya kira, dia hanya ingin mengalihkan perhatian warganya dari masalah-masalah yang menyangkut dirinya,'' kata Shi.

Beijing menolak segala upaya untuk memisahkan Taiwan dari wilayah kedaulatan China. Beijing menyatakan, reunifikasi merupakan tujuan yang tepat bagi Taiwan. Perdana Menteri China Wen Jiabao mengusulkan untuk melanjutkan perundingan reunifikasi.

Washington telah mengubah sikap diplomasinya pada 1979, dengan mengakui prinsip Satu China. Namun berdasar perjanjian bilateral dengan Taiwan, AS berkewajiban membantu Taipei jika wilayah itu diserang.

Sementara itu dalam pembukaan sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional (NPC), PM China Wen Jiabao kemarin mendesak negara agar menekan pertumbuhan ekonomi yang tidak efisien dan konsumsi energi yang berlebihan.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China ditaksir meningkat 10,7 persen tahun lalu menjadi 20,94 triliun yuan (2,69 triliun dolar AS), namun problem struktural serius masih menjadi kendala dalam pemgembangan ekonomi, kata Wem kepada 2.900 anggota NPC itu.(rtr-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA