logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 06 Maret 2007 INTERNASIONAL
Line

Bom Bunuh Diri di Bagdad, 28 Tewas

BAGDAD - Serangan bom terus mengguncang Bagdad. Sedikitnya 28 orang tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka akibat aksi pengeboman dengan modus bunuh diri di ibu kota Irak itu, kemarin.

Itu merupakan serangan bom terbesar di Bagdad dalam beberapa hari terakhir. Ledakan itu terjadi di dekat pasar buku Mutanabi, Bagdad tengah. Kawasan bisnis tersebut dihuni para pedagang muslim suni dan syiah.

Toko-toko dan sejumlah mobil terbakar. Asap hitam tebal membumbung ke udara, sesaat setelah ledakan. Polisi mengatakan, jumlah korban tewas kemungkinan bertambah. Sedikitnya 54 orang menderita luka-luka.

''Kertas beterbangan di kawasan pasar itu, seperti ribuan selebaran yang disebarkan dari pesawat,'' kata Naeem al-Daraji, staf Kementerian Kesehatan.

Saat bom meledak, Daraji sedang mengendarai mobil sekitar 200 meter dari lokasi pengeboman. Kaca mobilnya pecah. Tangan dan wajahnya luka karena terkena pecahan kaca. ''Mayat-mayat bergelimpangan. Potongan tubuh dan kertas berserakan. Darah berceceran di mana-mana,'' kata dia.

Orang-orang segera membawa para korban terluka ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi. Ambulans baru tiba di lokasi beberapa menit kemudian.

Serangan bom secara sporadis melanda Bagdad dalam beberapa hari terakhir. Jumat lalu, 10 orang tewas akibat pengeboman. Dalam insiden terpisah, sekelompok orang bersenjata kemarin menembaki peziarah syiah. Lima orang tewas akibat berondongan tembakan itu.

Tempat Penyiksaan

Minggu lalu, pasukan Amerika dan Irak menggempur daerah basis milisi syiah di Distrik Kota Sadr, Bagdad. Tak ada perlawanan dari kelompok milisi syiah saat pasukan gabungan itu melakukan razia keamanan. Operasi keamanan itu melibatkan hampir 1.200 tentara Amerika dan Irak.

Militer Amerika menyatakan razia keamanan di Kota Sadr itu berhasil menemukan tempat penyiksaan terhadap muslim suni.

Serdadu AS juga menyelamatkan dua orang Irak yang tampaknya menjadi korban penganiayaan.

Sementara itu, Perdana Menteri Nuri al-Maliki memerintahkan penyelidikan mengenai penyerbuan pasukan Inggris ke markas intelijen polisi di Basrah, Irak selatan.

Dalam penyerbuan itu, tentara Inggris menangkap seorang pemimpin kelompok penyiksa tahanan. Mereka juga menemukan 30 tahanan yang tubuhnya penuh luka bekas penyiksaan.

Militer Inggris menyatakan serangan di fasilitas tahanan Badan Intelijen Irak di Basrah tengah itu merupakan bagian dari operasi yang dipimpin pasukan antiteroris Irak.

Namun Maliki mengeluarkan pernyataan yang mengecam penyerbuan itu. ''Perdana menteri telah memerintahkan penyelidikan terhadap insiden pendobrakan kompeks keamanan di Basrah itu. Dia menegaskan perlunya menghukum orang-orang yang telah melakukan aktivitas tidak sah dan tak bertanggung jawab itu,'' kata juru bicara Maliki.

Sebelumnya, militer Inggris menyatakan penyerbuan itu dilakukan berdasarkan informasi yang diperoleh beberapa jam sebelumnya. Karena itu, mereka tidak sempat memberi tahu pemerintah Provinsi Basrah mengenai operasi tersebut.

''Dalam operasi itu, kami menemukan sekitar 30 tahanan, termasuk seorang wanita dan dua anak. Sebagian besar dari mereka tampaknya menjadi korban penyiksaan, jika melihat luka-luka di tubuh mereka,'' demikian pernyataan militer Inggris.(ap-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA