logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 02 Maret 2007 SEMARANG
Line

Digelar Wilujengan Perjanjian Salatiga 1757

BALAI KOTA- Pemkot Salatiga akan mempersiapkan kegiatan wilujengan (selamatan) Perjanjian Salatiga 1757 dalam rangka peringatan 250 Tahun Pura Mangkunegaran Surakarta. Acara yang akan berlangsung 17 Maret mendatang itu bertempat di lokasi tempat Perjanjian Salatiga (Pakuwon), Kompleks Lapangan Pancasila.

Rencananya dalam selamatan itu akan menghadirkan 250 tamu undangan dari Mangkunegaran Surakarta, Gubernur, Wali Kota/Bupati se-Jateng, serta tamu kerabat keraton dari Jakarta.

Kepala Kantor Inkom Pemkot Salatiga Drs Petrus Resi MSi mengatakan, Pemkot akan ikut serta membantu kegiatan yang memiliki nilai sejarah tersebut, sesuai dengan rapat dinas yang digelar, Kamis (1/3) kemarin.

Replika Pakuwon

Segala kelengkapan selamatan akan segera dipersiapkan dan dikoordinasi oleh Dinas Pariwisata, Seni Budaya, dan Olahraga (Disparsenibud) Salatiga. Sayangnya, sebuah bangunan mirip gardu keamanan di belakang Gedung Perjanjian Salatiga, kini sudah hilang. Hanya tinggal bangunan utama. Bangunan yang mirip gardu jaga itu, konon tempat para petinggi Mangkunegaran berembuk, saat Perjanjian Salatiga akan dilaksanakan. ''Mungkin akan dipersiapkan replika pakuwon, karena yang asli sudah tidak ada,'' kata Petrus.

Ka Disparsenibud Drs Dyah Puryati MSi mengatakan, pihaknya akan mengurus perizinan kegiatan tersebut, termasuk izin penggunaan tempat bekas Pakuwon, karena sekarang merupakan milik perorangan. Bangunan Pakuwon tempat Perjanjian Salatiga diadakan sudah dibongkar. ''Kami segera mempersiapkan,'' katanya.

Panitia nasional dan kerabat Keraton Pura Mangkunegaran Daradjadi Gondodiprojo yang berkunjung ke bekas Gedung Perjanjian Salatiga, beberapa waktu lalu mengatakan, Kota Salatiga memiliki peran penting pada berdirinya Pura Mangkunegaran di Surakarta. Berdirinya Mangkunegaran ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757. Tahun ini Pura Mangkunegaran genap berusia 250 tahun.

Daradjadi menceritakan, pada awal 1757 Gubernur Jenderal Belanda di Batavia menulis surat kepada beberapa raja. Yakni, Pakubuwono III di Surakarta, Sultan Hamengku Buwono I di Yogyakarta, dan RM Said atau Pangeran Sambernyawa. Surat tersebut merupakan undangan agar ketiganya bertemu di Salatiga untuk mengadakan perundingan.

Salah satu kesepakatan dalam perundingan tersebut adalah, Pangeran Sambernyawa diberikan hak untuk mendirikan sebuah pura sebagai pusat pemerintahannya di Surakarta. Namun, dengan syarat, dilarang membuat singgasana, membuat alun-alun dengan pohon beringin, membuat balairung, serta menjatuhkan hukuman mati.

Selanjutnya, pura yang didirikan Pangeran Sambernyawa itulah yang akhirnya dikenal dengan nama Pura Mangkunegaran. (H2-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA