| Selasa, 27 Februari 2007 | MURIA |
Pupuk SP 36 Sulit DidapatKUDUS - Pupuk SP 36 dalam beberapa pekan terakhir disinyalir mulai menghilang di pasaran. Kalaupun ada, harganya sudah melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan pengamatan Suara Merdeka, menghilangnya SP 36 terjadi di beberapa kawasan pertanian yang sudah mengawali musim tanam (MT) II. Misalnya terjadi di beberapa desa di Kecamatan Undaan. Petani di beberapa daerah tersebut merasa khawatir bila pasokannya langka. ''Hal itu bisa memengaruhi panen padi kami,'' jelas salah seorang petani di Desa Undaan Tengah, Supangat, Minggu (25/2). Biasanya dia membeli pupuk SP 36 Rp 156.000/kuintal. Namun, saat ini harganya bisa melambung hingga Rp 190 ribu/kuintal. ''Saat ini kami memang kesulitan mendapatkan pupuk jenis tersebut,'' ungkapnya. Puncak penggunaan pupuk, kata dia, akan terjadi sekitar bulan Maret nanti. Pada saat tanaman padi berumur sekitar lima hingga 10 hari tersebut, pemupukan harus dilakukan secara intensif. Selain SP 36, pupuk lainnya yang dibutuhkan petani yakni urea dan KCL. Cepat Layu ''Namun, baik urea maupun KCL masih mudah didapatkan,'' tandasnya. Jika pada awal MT, petani tidak bisa menyediakan pupuk SP 36, hal tersebut berpengaruh pada kondisi bibit padi yang disemai. Supangat menyatakan, bibit padi yang kekurangan pupuk tersebut, biasanya cepat layu dan mudah ''menunduk''. ''Untuk satu hektare lahan, kami membutuhkan 1,5 kuintal SP 36, satu kuintal KCL, dan urea dua kuintal,'' ungkapnya. Pengecer pupuk di daerah tersebut Nuraji, membenarkan kelangkaan pupuk jenis itu. Setiap minggu, dia hanya mendapat jatah SP 36 lima kuintal. Untuk mendapatkannya, banyak di antara petani yang memberikan uangnya terlebih dahulu. ''Tetapi, kenyataannya pupuk SP 36 memang tidak ada,'' ujarnya. (H8-54) |