logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Februari 2007 MURIA
Line

Gagal Panen, Warga Konsumsi Belalang

PATI-Apa harus dikata, tak ada rotan akar pun jadi, tak ada nasi, belalang pun dikonsumsi. Pepatah ini terpaksa diberlakukan oleh puluhan warga Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi, Pati yang sudah dua pekan belakangan ini mengkonsumsi belalang.

Salah seorang warga Desa Bodeh, Rohmad (38) mengaku, dalam dua pekan terakhir dirinya bersama rekan-rekannya mencari belalang di sawah.

"Belalang di sawah banyak sekali, jadi daripada dibiarkan merusak tanaman padi lebih baik kami makan saja. Habis nggak ada yang dimakan sih," ucapnya polos, kemarin di sela-sela kesibukannya membutru belalang di sawah.

Ironis memang, meski di berbagai daerah pada dua bulan terakhir telah panen, namun tidak demikian dengan sejumlah wilayah di Pati bagian selatan. Curah hujan yang rendah, menjadikan beberapa kecamatan di kawasan tersebut masih kesulitan air.

Kondisi ini berakibat buruk bagi tanaman padi, utamanya untuk areal sawah tadah hujan. Bahkan, di Kecamatan Pucakwangi, gagal panen musim tanam awal tahun ini semakin memperburuk kondisi petani. Pasalnya, sejak Januari lalu, tanaman padi yang telah berumur 15-30 hari kering akibat curah hujan yang rendah.

1.222 Hektare

Menurut data yang dihimpun Lab Pengamatan Hama dan Penyakit Tumbuhan (Lab PHPT) wilayah Pati, tidak kurang dari 1.222 ha tanaman padi di daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Blora tersebut rusak berat, bahkan puso.

Keadaan tanaman padi yang tidak tumbuh normal dan terancam mati itu, diperparah dengan datangnya serangan hama belalang. Namun, bagi petani Pucakwangi, serangan belalang ini seakan tidak dipedulikan. Karena, mereka sadar tidak harapan lagi untuk menyelamatkan tanaman padinya selain hujan.

Datangnya belalang di areal persawahan justru dimanfaatkan warga setempat untuk dikonsumsi sebagai lauk. Setiap sore menjelang malam, areal persawahan dipenuhi oleh warga, mulai anak-anak hingga orang tua, yang berburu belalang.

Hampir setiap sore, puluhan warga Desa Bodeh, Kecamatan Pucakwangi, beramai-ramai berburu belalang hijau dengan membawa bekal oncor (obor-Red) untuk penerangan, dan ember atau karung sebagai tempat belalang. Umumnya, perburuan dilakukan sampai pukul 21.00.

Cara menangkapnya juga mudah. Selain populasinya yang cukup banyak, binatang ini tidak gesit meloncat saat akan ditangkap.(fen-17)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA