logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Februari 2007 SEMARANG
Line

Berbagai Hama Serbu Padi yang Siap Dipanen

KENDAL- Memasuki musim panen, sejumlah hama menyerang tanaman padi di beberapa areal persawahan di daerah Kendal. Akibatnya, para petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk merawat tanaman padi miliknya.

Selain tikus, hama yang menyerang lahan persawahan padi di wilayah Kelurahan Kebondalem dan Sijeruk Kecamatan Kendal antara lain sundep, burung pipit, dan belalang.

''Hama tikus mulai menyerang tanaman padi sejak pertengahan Januari lalu, yaitu ketika petani mulai menanam bibit padi,'' ungkap Slamet Wibowo (53) petani di RT 6 RW 1 Kelurahan Kebondalem, kemarin.

Binatang pengerat itu, imbuh dia, mencabuti tanaman padi muda guna selanjutnya memakan benih padi yang terdapat di pangkal tanaman. Serangan tersebut cukup meresahkan petani.

''Saya dan beberapa petani yang lahannya saling berdekatan, terpaksa mengganti bibit padi baru yang mati akibat dirusak tikus.''

Di sawah seluas sekitar 3.500 m2, setiap petani rata-rata harus menanam bibit padi baru sebanyak tiga ikat.

''Kami harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar tenaga tanam,'' kata purnawirawan TNI AD itu seraya menjelaskan biaya tenaga tanam yang bekerja selama setengah hari Rp 10.000/orang.

Kendati serangan hama pengerat dinilai cukup mengkhawatirkan, namun hingga kemarin para petani belum melakukan tindakan pemberantasan.

''Biasanya, jika serangan tikus mulai muncul, petani melakukan gropyokan secara gotong -royong. Kegiatan tersebut mungkin akan dilakukan dalam waktu dekat ini.''

Hama Sundep

Petani yang kini menggarap lima areal sawah tersebut menuturkan biaya tambahan juga harus dikeluarkan untuk mengantisipasi serangan belalang.

Yaitu, membeli dan menyemprotkan sejenis obat pembasmi. Harga obat tersebut dinilai cukup mahal bagi petani, yakni berkisar Rp 100.000/kaleng.

''Serangan hama itu, semakin memberatkan petani ketika pada saat bersamaan muncul ratusan burung pipit berdatangan memakan butir padi muda. Guna mengusir dan menakut-nakuti burung, kami membuat orang-orangan sawah atau memasang belasan kain bekas spanduk promosi di pematang sawah. Bendera-bendera itu satu sama lainnya diikat tali, dan digerak-gerakkan dari kejauhan.''

Hal senada dikemukakan, Sobirin (45) petani padi di Sijeruk. ''Para petani di tempat kami lebih khawatir terhadap serangan hama sundep. Serangan hama ini cukup sulit diberantas, karena memakan batang padi. Petani sangat berharap pihak terkait segera turun tangan guna mencarikan jalan keluar. Jika dibiarkan tanpa penanganan, dimungkinkan sebagian areal sawah akan mengalami puso.'' (G15-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA