| Selasa, 27 Februari 2007 | SEMARANG |
Bonbin Mangkang Ditarget Rp 1,5 M/Tahun
SEMARANG - Taman Margasatwa Semarang atau lebih dikenal dengan Bonbin Mangkang menurut rencana akan diresmikan Wali Kota Sukawi Sutarip, besok (28/2). Kendati secara fisik belum sepenuhnya rampung, objek wisata yang terletak di Kelurahan Wonosari, Ngaliyan itu ditarget menghasilkan pendapatan Rp 1,5 miliar/ tahun. Kepala UPTD Taman Margasatwa Semarang Kusyanto menjelaskan, target tersebut jauh lebih tinggi dibanding pendapatan tahun sebelumnya, yang kurang lebih Rp 100 juta. Kendati demikian, dia bersama staf di bawahnya akan berupaya merealisasikan target tersebut. Langkah pertama dengan menaikkan tarif masuk. Jika sebelumnya Rp 1.500 untuk hari biasa dan Rp 3.000 saat libur, pascaperesmian menjadi Rp 3.000 untuk hari biasa dan Rp 5.000 pada waktu libur. Selain itu untuk menarik minat pengunjung, pihaknya juga akan merealisasikan serangkaian program, di antaranya melengkapi wahana outbound untuk anak serta atraksi binatang. ''Kami juga akan melayani pengunjung foto bersama hewan,'' kata Kusyanto, Senin (26/2). Bonbin Mangkang, lanjut dia, saat ini memiliki koleksi binatang sekitar 200 ekor, terdiri atas 50 spesies. Dibanding Taman Margaraya Tinjomoyo, bonbin baru itu punya konsep penataan ruang yang berbeda. Jika binatang di Tinjomoyo seluruhnya didisplai di dalam kandang, Bonbin Mangkang memiliki sejumlah zona, dengan membiarkan hewan hidup tanpa sekat ruangan. Di zona Afrika misalnya, binatang seperti babi hutan, angsa, dan sebagainya menempati lahan relatif luas yang dibatasi parit. Demikian halnya dengan reptil ditempatkan di dalam lokasi tanpa kandang. Dengan demikian, pengunjung bisa leluasa berinteraksi dengan reptil-reptil itu. ''Untuk menjaga keamanan, kami menyediakan pawang,'' kata Kusyanto. Perlu Pembenahan Hanne Groustra (23) wisatawan asal Norwegia yang mengunjungi Bonbin Mangkang, Senin (26/2) mengatakan, secara umum kondisi taman margasatwa itu sudah bagus. Kendati demikian menurutnya, masih perlu banyak pembenahan. Mahasiswi Antropologi Universitas NTNU Trondheim yang tengah melakukan riset di Indonesia tersebut mencontohkan kurangnya pohon peneduh. Hal itu, dapat mengurangi kenyamanan pengunjung. ''Sebagai objek wisata keluarga, kebun binatang ini semestinya memperhatikan faktor kenyamanan,'' katanya. Ditanya perbedaan antara Bonbin Mangkang dengan kebun binatang di negaranya, Hanne menyebut ada pada jenis binatang dan konsep penataan ruangnya. Namun soal penataan ruang, dia tidak menjabarkannya. ''Tentu saja berbeda. Di sini hampir semua penghuninya binatang tropis, kalau di sana lebih banyak dari wilayah subtropis dan kutub,'' kata Hanne. (H6,apr-62) |