logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Februari 2007 EKONOMI
Line

Karyawan Telkom Minta Direksi Diganti

JAKARTA-Setelah Dewan Direksi PT Jamsostek diganti, menyusul desakan Serikat Pekerja (SP) dan Dewan Komisaris BUMN itu, kini giliran SP Telkom Tbk menuntut hal yang sama. Alasan SP Telkom juga senada dengan SP Jamsostek, yakni menilai ada disharmoni antardireksi dan antara direksi dengan Dewan Komisaris BUMN telekomunikasi itu.

Permintaan SP Telkom itu dikirim kepada Meneg BUMN dan ditembuskan kepada Presiden dan Wapres, Menteri Kominfo, serta Dewan Komisaris PT Telkom. ''Perombakan BoD (board of director) menjadi kebutuhan mendesak di tengah persaingan bisnis yang ketat,'' bunyi surat SP Telkom yang ditandatangani ketua umum Iskanda Zamzami dan Wakil Sekjen Gatot Wahyudianto.

Permintaan itu diharapkan menjadi masukan dalam Rencana Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), 28 Februari . Disebutkan meskipun penetapan BoD sulit lepas dari pengaruh politik, namun SP Telkom berharap BUMN itu harus dipimpin tim profesional.

Kondisi menggembirakan adalah naiknya harga saham di Bursa Efek Jakarta dan New York Stock Exchange, sehingga nilai kapitalisasi pasar Telkom menjadi 17 juta dolar AS. ''Tetapi ini tidak fundamental dan bersifat jangka pendek dan sangat rawan.''

Pencederaan

Sebaliknya SP Telkom menilai ada pencederaan citra secara terbuka. BUMN itu dianggap tidak melakukan tata kelola perusahaan yang baik. ''Itu mencederai dan menyakiti seluruh karyawan mengingat Telkom terus berupaya menjadi perusahaan yang sangat sehat, pembayar terbesar dividen dan pajak bagi negara,'' tulis SP Telkom.

Diakui ada pertumbuhan usaha dan pendapatan. Namun terlihat pertumbuhan yang tidak seimbang antara pertumbuhan pesat bisnis selular, yang ditopang satu-satunya oleh Telkomsel, dan pertumbuhan negatif yang mengkawatirkan dan berbahaya dari bisnis telepon tetap.

''Secara fundamental Telkom membutuhkan dua pilar bisnis (telepon selular dan telepon tetap) dan menjadi sangat berbahaya hanya mengandalkan pertumbuhan bisnis Telkomsel.''

Pengembangan Telepon Flexi dinilai SP Telkom sejak awal tumbuh menjadi bisnis dan lokomotif kurva kedua bagi Telkom. Namun dengan masuknya formatur direksi periode (2005-2006) saat ini menjadikan stagnasi. Penambahan Flexi hanya sebesar 3% selama 2006, dari 4,062 juta (2005) menjadi 4,176 juta (2006).

Penyerapan CAPEX Flexi juga menurun tajam dari Rp 965 miliar tahun 2005 menurun menjadi Rp 175 miliar pada 2006. ''Sangat kontradiktif bila dibandingkan dengan CAPEX Telkomsel yang tercatat pada September 2006 Rp 8,733 triliun.''

Dirut PT Telkom Tbk, Arwin Rasyid, belum bisa dihubungi karena teleponnya tidak aktif. Namun menurut orang dekatnya mantan Dirut Bank Danamon itu sudah mengetahui gerakan dan apa yang diinginkan SP Telkom. ''Keberhasilan SP Jamsostek melengserkan dirutnya nampaknya akan diterapkan di PT Telkom oleh SP-nya sendiri. Semua diserahkan Pemerintah,'' katanya.(wa-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA