| Sabtu, 17 Februari 2007 | PANTURA |
Aking Langka Beralih ke JagungBREBES - Ratusan warga di Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes kini terpaksa mengonsumsi nasi jagung. Sebab, mereka saat ini tidak mampu membeli beras Rp 7.000/kg. Aking yang selama ini menjadi pilihan alternatif saat musim paceklik, langka di pasaran. Toipah (32), salah seorang warga menuturkan, kondisi itu sudah berlangsung selama dua minggu. Hal itu terjadi karena hasil melaut yang menjadi mata pencaharian utama sangat sedikit. ''Tangkapan ikan saat ini sepi sehingga suami tidak melaut. Kalaupun berangkat, hasilnya hanya bisa untuk menutup utang,'' tuturnya. Menurut dia, jangung menjadi pilihan lantaran harganya lebih murah dari beras. Per kilogram hanya Rp 2.500 tetapi untuk beras Rp 7.000. Padahal pendapatan yang diperoleh sehari-hari dari melaut tidak tentu. Rata-rata sekali berangkat hanya mendapat hasil Rp 10.000. Masih Banyak Sementara itu, kebutuhan lain yang harus dipenuhi masih banyak, seperti untuk membayar sekolah. ''Yang penting, setiap hari keluarga saya bisa makan. Meski kami harus mengonsumsi nasi jangung,'' tutur ibu tiga anak. Hal senada disampaikan Darsini (40). Dia mengungkapkan, warga di desanya yang mengonsumsi nasi jagung berjumlah ratusan. Kondisi terparah menimpa RT 6 dan 7, RW 6. Di tempat itu, 70-an keluarga telah memakan nasi jagung sebagai penganti beras. Menurut ibu empat anak itu, pada saat musim paceklik seperti sekarang, warga biasanya mengganti beras dengan nasi aking. Namun, kini aking tidak ada karena harga beras sangat tinggi. Padahal, harga aking dibandingkan dengan jagung lebih murah, yaitu Rp 2.000/kg. ''Kalau dibandingkan dengan nasi aking, rasanya lebih tidak enak. Namun, saat ini tidak ada di pasaran,'' ucapnya. Dia mengatakan, sebelum dimakan jagung itu ditumbuk lebih dahulu. Setelah itu, bisa dimasak seperti menanak nasi atau dibuat bubur. Namun, kebanyakan warga memasangnya dengan dibuat bubur karena rasanya lebih enak. ''Untuk lauk pauk saya makan seadanya. Biasanya dari sisa ikan hasil melaut," tuturnya. (bs-69) |