| Sabtu, 17 Februari 2007 | WACANA |
Multikulturalisme di Wilayah Pecinan
Indonesia punya beragam budaya, tidak ada "penduduk asli" yang tersisa, semuanya "indo" atau percampuran berbagai etnis, membentuk satu bangsa dengan budaya yang multi pula, multikulturalisme. Indonesia memang serba multi. Itulah kekayaan taman sarinya Indonesia yang majemuk. Di semua wilayah pecinan, multikulturalisme sangat terasa, Karena sebagai kelompok yang "luwes", masyarakat Tionghoa menerima berbagai budaya menjadi bagian dari budayanya, budaya Hoa Ciau, budayanya Orang Tionghoa di seberang lautan negeri asalnya. Tionghoa bukan dipandang sebagai bangsa, melainkan sebagai budaya. Monumen 1740 Monumen bersejarah menengarai peristiwa pembantaian orang Tiongoa pada 9-12 Oktober 1740 di Batavia, adalah Kelenteng Tek Hay Bio, sekarang bernama Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) "Sinar Samudra", terletak di Gang Pinggir 105-107 Semarang. Tempat itu menghadap bekas Pos Polisi Sebandaran. Salah seorang pemimpin pejuang Tionghoa adalah Kwee Lak Kwa, yang karena menghadapi kekuatan VOC di Batavia menghindar ke Cirebon, kemudian Tegal, akhirnya di Semarang. Perlawanan Tionghoa yang didukung Kanjeng Sunan di Kartasura berlangsung hingga 1742. Bersama dua pejuang Tionghoa, Kwee An Say yang pernah ditangkap Belanda, tidak diketahui keberadaannya selanjutnya. Tan (Souw) Pan Jiang dan Oey Eng Kiat gugur dalam pertempuran di Welahan-Jepara, sedangkan Kwee Lak Kwa menghilang di sekitar Tegal. Tek Hay Bio merupakan monumen pertama yang didirikan untuk menghormat Tek Hay Cin Jin. Beliau disejajarkan dengan "Dewa Penyelamat" bagi masyarakat di pesisir utara Jawa Tengah dan sebagian Jawa Barat. Kelenteng serupa kemudian didirikan di beberapa tempat, antara lain di Indramayu dan Jakarta, sementara yang di Tegal merupakan Kelenteng terbesar sebagai penghormatan terhadap Tek Hay Cin Jin. Pada saat ini sudah banyak orang beretnis Tionghoa sudah bukan merupakan Tionghoa "perantauanî atau disebut juga Hoa-chiau, dalam bahasa Inggris disebut Chinese Overseas. Mengingat terjadinya keturunan Tionghoa adalah karena hasil perkawinan lelaki Tionghoa dengan wanita pribumi, maka di Jawa orang keturunan Tionghoa banyak yang tidak meninggalkan adat "selametan" dengan menggunakan doa agama Islam pada acara-acara ritual etnis. Itulah sebabnya, komunitas Tionghoa masih merasakan sisa-sisa keyakinan sinkretismenya. Keyakinan akan adanya "melaikat penjaga pintu akhirat" (mui sin), dewa bumi (hok tik cing sin) dengan pembantunya seekor macan (hau cian kong), malaikat pembawa surat jalan (kok kwa), ditambah para dewa secara agama Buddha, antara lain Buddha Sakyamuni (se ka mu ni hut), Avalokiteswara (kwan im pow sat), Ksitigarba Bodhisatwa (te cong ong pow sat), dan diselaraskan dengan adanya penjaga wilayah, kyai among, nyai tumpeng, dsb. Hal tersebut menimbulkan akulturasi keyakinan etnis Tionghoa-Jawa, saling mengisi dan saling menghormati. Ditetapkannya Hari Raya Imlek sebagai libur nasional, merupakan pengakuan politis Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan keberadaan budaya Tionghoa sebagai bagian dari seluruh budaya yang berproses alkulturisasi di Nusantara ini. Keberhasilan pembangunan yang telah dicapai selama ini akan melahirkan tuntutan baru yang semakin meningkat dan kompleks. Untuk itu, kita memerlukan kejernihan batin, kemurnian yang bersih dan pikiran yang baik, penuh keimanan dan ketakwaan secara agama. Hari Raya Imlek 2558 harus dapat meningkatkan suasana lebih baik dalam kehidupan pribadi maupun kemasyarakatan. (68) --- D Henry Basuki, pemerhati sosial budaya, tinggal di Semarang |