| Sabtu, 17 Februari 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANASelamat Tahun Baru Imlek 2558Ketika tahun baru tiba, kita bergegas untuk merayakannya. Kenapa ? Baru, bukan hanya tahun, selalu disukai manusia. Sesuatu yang baru cenderung berbeda dengan yang lama. Semua yang kita sebut baru, datangnya selalu belakangan. Maka setiap kali datang sesuatu yang baru, kita cenderung menjadi senang karena ada yang berbeda. Sesuatu yang berbeda itu siapa tahu, barangkali atau diharapkan lebih baik dari yang lama. Dengan demikian, datangnya tahun baru, diharapkan membawa sesuatu, semangat, dan harapan baru. Jika yang lama biasa saja, yang baru diharapkan menjadi lebih baik, lebih indah, lebih bahagia dan sejahtera. Tahun baru China pada tanggal Minggu 17 Februari 2007 besok pagi genap ke-2558. Para sahabat, tetangga, relasi dan warga tionghoa akan merayakannya dengan penuh suka cita dan harapan. Bersuka cita disebabkan oleh banyak hal baik secara pribadi-pribadi maupun komunitas. Sebagai pribadi, tahun baru pertanda telah terlewatinya semua tantangan kehidupan setahun penuh. Mampu melewati kehidupan sehari saja sudah sangat bersyukur, apalagi melewati masa yang cukup panjang ini. Selama masa setahun itu pasti bukan semua kisah bahagia, mungkin ada sedih juga di sana. Jika pun yang terjadi adalah kesedihan, harapannya tahun baru membawa peruntungan lebih baik. Sebagai komunitas, datangnya tahun baru sangat terasa bedanya dalam beberapa tahun ini. Ada kebebasan di sana, sehingga para saudara dan tetangga kita bisa lebih mengekspresikan diri seperti juga komunitas yang lain. Ketika manusia merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri pasti ada kebahagiaan di sana, sehingga senyum dan tawa semakin mudah untuk dilihat dan didengar. Bukan hanya itu, lihatlah rumah-rumah para tetangga dan sahabat kita dihias dengan lampion berwarna warni, disajikan pula aneka ragam buah dan makanan. Maknanya ? Mudah sekali kita tangkap. Itulah ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan hati. Ekspresi kebahagiaan adalah hal yang paling hakiki bagi keberadaan manusia. Maka, ketika melihat orang lain berbahagia, hati kita tersangkut juga. Orang yang bahagia biasanya cenderung lebih terbuka hatinya, terbuka menerima kehadiran orang lain ke dalam dirinya, terbuka melakukan derma, dan tentu terbuka bagi kehadiran Tuhan dalam dirinya. Maka ekspresi orang-orang berbahagia pasti diwujudkan dalam bentuk syukur kepada Yang Memberi Kebahagiaan. Maka, alangkah tidak bijaksananya kalau orang yang ingin bahagia kemudian dihambat, dihalangi bahkan dicelakai. Jika itu terjadi berarti pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Ketika Imlek datang, semua menjadi pesolek. Bukan hanya individu, tetapi juga rumah, toko, dan juga kotanya. Semua menjadi tampak lebih semarak, riang dan penuh nuansa. Di kala seperti ini, terasa bahwa keriangan dari sebuah ekspresi itu seringkali menimbulkan rasa takjub. Kue keranjang yang nikmat dan eksotik itu tiba-tiba hadir dari tetangga di meja makan kita. Meski sekadar kue, tetapi mampu menghadirkan rasa kebersamaan, rasa kenikmatan, rasa ketakjuban dan rasa saling menyayangi antartetangga. Nilai-nilai seperti ini menjadi sangat relevan dan kita butuhkan untuk saat ini. Karena di saat rasa sayang itu muncul, tak ada lagi batas ras, etnik, atau apa pun. Maka datangnya tahun baru imlek, kita semua berharap akan datangnya tahun yang memberikan rezeki lebih banyak, kebahagiaan lebih dalam, kebersamaan lebih erat dan kesadaran lebih baik. Berkaitan dengan itu, kita juga berharap semakin membaiknya kehidupan bersama agar bangsa ini memiliki ketahanan lebih solid dan masa depan lebih baik. Semangat seperti ini pasti telah dimiliki lebih baik pada diri para tetangga dan sahabat-sahabat kita. Merayakan imlek dengan penuh suka cita pasti akan diimbangi dengan penuh derma dan saling berbagi untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Yang penting, saling percaya untuk menumbuhkan dan menjaga keteraturan dan ketanggungjawaban sejati. |