| Sabtu, 17 Februari 2007 | SEMARANG |
OP Beras Belum Membuahkan HasilKENDAL- Kendati Pemkab Kendal bersama Dolog telah melakukan operasi pasar (OP), namun upaya tersebut belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Bahkan, sejak sepuluh hari terakhir harga beras di sejumlah pasar tradisional terus melonjak. Di Pasar Kendal, misalnya, Jumat (16/2) harga beras eceran untuk jenis mentik mencapai Rp 6.250/kg. Padahal, beberapa hari lalu harga beras tersebut Rp 6.000/kg. Kenaikan cukup tinggi terjadi pada beras jenis IR 64 yang selama ini diminati konsumen. Semula Rp 4.500/kg menjadi Rp 5.750/kg. Beras bramo semula Rp 5.000/kg, menjadi Rp 5.900/kg. ''Kenaikan harga beras tersebut, sudah terjadi sejak sepuluh hari ini. Kami tidak tahu penyebabnya, karena hanya ikut-ikutan menaikkan harga jual. Padahal stok beras untuk kulakan sangat mencukupi,'' ungkap Samiah (40) pedagang beras di kompleks Pasar Kendal, kemarin. Kenaikan harga beras dikeluhkan sejumlah warga. Mereka sangat berharap pemkab dan instansi terkait berupaya untuk menormalkan harga. ''Ini adalah kenaikan kedua, dalam dua bulan terakhir,'' kata Yuni (32) ibu rumah tangga yang bermukim di kompleks perumahan Perhutani, kemarin. Beberapa bulan lalu, imbuhnya, harga beras jenis IR 64 Rp 3.500 -Rp 4.000/kg. ''Kenaikan harga dalam waktu singkat itu, memberatkan keluarga kami. Saya harus pintar menyiasati kebutuhan, dengan penghasilan suami yang masih tetap.'' Lima Ton Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab FX Eddy Prapto Trenggono SH ketika diminta tanggapan terkait persoalan tersebut mengemukakan, pihaknya belum dapat berbuat banyak untuk menstabilkan harga beras di wilayahnya. ''Kegiatan OP bersama Dolog ke sejumlah pasar tradisional, beberapa waktu lalu telah menyalurkan lima ton beras. Hanya, sampai saat ini belum membuahkan hasil. '' OP bertujuan menstabilkan dan menekan kenaikan harga. ''Saat itu, OP telah menyiapkan sebanyak tujuh ton untuk dijual kepada masyarakat dengan harga Rp 3.700/kg. Namun, hanya lima ton yang terbeli warga. Sampai saat ini kami menyelidiki penyebab tidak tersalurnya seluruh beras tersebut.'' Dia mengemukakan, kenaikan harga beras diperkikaran karena keterkaitan dengan sejumlah daerah lain sangat kuat. ''Misal harga di Jakarta mengalami kenaikan, kondisi ini memengaruhi naiknya harga di Kendal. Demikian pula ketika harga beras di Kota Semarang naik, maka harga di sejumlah daerah lain akan mengikuti. Kami berharap harga beras bisa kembali normal, saat panen raya nanti.'' (G15-16) |