logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 17 Februari 2007 KEDU & DIY
Line

Sukono, 24 Jam Jaga Pintu Air Kedungsamak

  • Oleh Komper Wardopo

BAGI Sukono (48), petugas penjaga pintu air Bendung Kedungsamak di Sungai Luk Ulo, Kebumen, waktu bukan lagi milik dia dan keluarganya. Karena 24 jam, dia harus siap mengabdikan diri pada tugasnya. Terlebih di musim hujan ini, ibaratnya dia harus "siaga penuh".

Sejak Intake atau induk pengambilan air dari Sungai Luk Ulo di atas Siphon Kemangguhan beroperasi, dia makin sibuk dengan tugasnya. Setiap pagi, Sukono harus mengontrol pintu air pengambilan agar tetap lancar mengalir.

Jika ada sampah di pintu air itu, dia harus segera membersihkan. Namanya sampah sungai, semua jenis limbah setiap hari bermunculan. Apalagi saat banjir, pasti ada sampah kayu, bambu, debog atau batang pisang hingga bathang atau binatang yang mati.

Setelah air dipastikan mengalir, dia harus mengecek ketinggian air di pintu pembagi Bendung Kedungsamak. Belum lagi kondisi tanggul dari pengambilan sampai pintu pembagi sepanjang 900 meter masih bangunan baru sehingga setiap saat perlu diawasi.

Memang sehari-hari, dia dibantu tiga pekerja penjaga pintu. Namun tanggung jawab dan pemegang kunci gembok pintu air itu ada di pundaknya. Beban tugas itu tak hanya siang hari. Malam hari, kala banjir, Sukono harus siaga.

Maklumlah, saat banjir meluap dia tetap harus menjaga debit air stabil. Mau tak mau pria ini harus segera mengurangi atau menurunkan pintu air agar tidak melimpah. Saat ini, kapaitas air dari intake Kedungsamak baru sekitar 4,8 meter kubik sampai Rp 5,2 meter kubik perdetik.

Terlebih di musim hujan ini, cuaca tidak menentu. Meski daerah bawah atau hilir di Kebumen Tengah dan Selatan jarang hujan, daerah hulu Sungai Luk Ulo di perbatasan Banjarnegara dan Wonosobo sering hujan.

Dalam kondisi begitu, dia harus tetap siap menjaga pintu air. Namun beban itu sedikit ringan karena di Sungai Luk Ulo ada beberapa bangunan irigasi vital. Di Desa Kaligending, ada bendung dan pembagi air pula. Meski permukaan bendung itu sempat diturunkan, fungsi pembagi air dan pengontrol ketinggian air masih ada.

"Bila di daerah atas banjir, saya sudah dihubungi teman. No, nduwur udan, siap-siap ya. Saya harus segera ke pintu air, meski malam hari," terang PNS golongan IIA itu.

Sehari-hari Sukono bekerja naik sepeda onthel. Sebenarnya dia punya sepeda motor. Namun harus mengalah, karena dipakai anaknya sekolah di sebuah SMK di Kebumen.

Mengingat tugasnya yang berat dan harus bertanggung jawab atas kecukupan air di 9.800 hektare sawah di Kebumen Selatan, Sukono mendambakan punya sepeda motor dinas. Juga rumah penjaga air, semestinya disediakan.

Meski fasilitas masih minim, toh, Sukono tetap bersemangat bekerja. Setiap saat dia membawa buku catatan tentang debit air rata-rata. Laporan di buku tebal itu harus siap dilaporkan ke atasan atau yang membutuhkan.

Pria warga Desa Kebagoran, RT 7/RW III itu, menjadi PNS sejak 1988. Statusnya karyawan di bawah Unit Pelaksana Teknis Luk Ulo Barat Dinas Sumber Daya Air Pertambangan dan Energi Kebumen.

Selama menjadi PNS, setiap bulan dia menerima gaji kotor Rp 1.374.000, dan sehari-hari menghidupi satu istri serta empat anak. Tugas pokoknya berkonsentrasi menjaga tiga titik pintu air, yaitu pintu pengambilan, pintu pembuang atau pengurang, dan pintu pembagi.(34)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA