logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Februari 2007 SALA
Line

Ketroprak Humor Ande-ande Lumut Waria

Ada Kleting Pink yang Berbadan Kekar

KALANGAN waria Sragen tergabung dalam paguyuban Sedap Malam Sragen (SMS), Sabtu petang menggelar ketoprak humor bertajuk Ande - ande Lumut. Kegiatan memperingati setahun berdirinya paguyuban yang beranggota 82 waria itu digelar di Pendapen Serambi Sukowati, Jl Dr Wahidin, Sragen. ''Ini upaya waria dalam beinteraksi dengan masyarakat dan mengekspresikan seni,'' tutur Sriyanto, ketua paguyuban SMS.

Ketoprak Ande-ande Lumut diangkat dari ceritera rakyat yang menjadi dongeng turun temurun. Ketroprak yang disutradarai Pien Wiyatno dan Sriyanto, seniman ketoprak ternama di Sragen, memang apik. Agus Fatchur Rahman, pembina Serambi Sukowati membuka peluang bagi siapa saja untuk mengekspresikan kesenian di pendapen. Undangan yang disebar 300, namun yang datang dua kali lipat.

Pertunjukan itu mengisahkan adanya sepuluh Kleting hendak ngunggah- unggahi (melamar) Ande-ande Lumut, pemuda ganteng dan tokoh masyarakat yang disegani putra mbok randa asal Dadapan. Namun dari sepuluh Kleting itu, hanya Kleting kuninglah yang lamarannya diterima Ande-ande Lumut karena mampu menjaga citra dan kesuciannya dari pelecehan Yuyu Kangkang.

Sebenarnya dalam ceritera Ande-ande Lumut hanya ada kleting kuning, hijau, biru, merah. Namun sajian itu mengusung tambahan kleting-kleting yang lain, karena ada kleting pink, ungu, ireng, jambon, bisu dan ganyong.

Mencangkul

Dalam adegan pertemuan keluarga, Janda Pesidaran (Warno Begok) ibunda para kleting menanyakan kegiatan masing-masing ''putrinya'' itu. Lalu dijawab kalau mereka mencuci di sungai dan menanak nasi. Namun dua gadis kleting ganyong dan kleting ireng disebutkan kegiatannya mencangkul di sawah.

''Lha piye tok nduk, wong arep ngunggah- unggahi jaka bagus kok kegiatannya mencangkul di sawah,'' tutur Randa Pasirepan.

Dialog dalam ketoprak itu penuh canda dan tawa. Tak mengherankan penonton kerasan hingga pertunjukkan bubar. Apalagi ada kleting yang mengaku berparas paling cantik, namun badannya kekar dan otot lengannya besar.

Ketroprak itu mengangkat dialogis fenomena sosial yang terjadi dan berkembang di tengah masyarakat. Ada waria yang berpenampilan kenes dan berbadan seksi, layaknya wanita normal. Tentu saja ''wanita'' seksi itu paling banyak menyedot perhatian penonton pria.

Sebaliknya, ada waria yang mencoba memanipulasi penampilan seanggun mungkin untuk menarik perhatian. Sayangnya, waria itu berotot kekar dengan sanggul (gelung) rambut yang kelewat besar dan nyaris melorot. Maka jadilah hiburan segar yang mengocok perut penonton.(Anindito AN-67)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA