logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Februari 2007 SALA
Line

Warga Tetap Biarkan Unggas Berkeliaran

BOYOLALI- Instruksi Bupati Boyolali Sri Moeljanto agar warga mengandangkan unggas miliknya belum sepenuhnya ditaati. Masih banyak warga yang membiarkan ayamnya berkeliaran bebas di halaman dan kebun.

Berdasarkan pantauan di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono dan Desa Guwokajen, Kecamatan Sawit, sejumlah warga masih membiarkan unggas miliknya bebas berkeliaran. Ayam dan itik hanya dimasukkan ke kandang saat malam tiba. Mereka berkilah, bila terus menerus dikurung ternak justru mudah sakit. Selain itu, bisa menghemat biaya pakan.

''Kalau dibiarkan bebas, bisa mencari makan di kebun. Paling, hanya diberi makan campuran katul dan konsentrat sekali sehari sudah cukup,'' ujar Gatot (32) warga Dukuh Tempel, Desa Jembungan.

Seperti diberitakan, mengantisipasi wabah flu burung, warga diminta mengandangkan unggas miliknya. Seluruh unggas dilarang untuk dilepas dan mencari makan secara bebas seperti sebelumnya. Kepala Kantor Kehumasan, Informasi dan Komunikasi, Sugiri mengatakan, larangan merupakan instruksi Bupati Sri Moeljanto. Sekaligus menindaklanjuti Instruksi Guberunur Jateng No 446/1670 tahun 2007. Pihaknya telah menyampaikan instruksi tersebut kepada seluruh camat dan instansi terkait agar segera melakukan sosialisasi.

Butuh Biaya

Keengganan warga untuk mengandangkan unggasnya juga disebabkan tidak memiliki kandang yang memenuhi syarat. Biasanya, ayam atau unggas langsung dimasukkan ke rumah saat malam hari. Unggas diberi tempat dibagian pojok dapur.

Sedangkan untuk membuat kandang, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit karena harga bambu sudah mencapai Rp 5 ribu/ batang untuk ukuran kecil.''Membuat kandang setidaknya butuh 10 batang bambu ukuran sedang, belum lagi membeli paku dan biaya tukang,'' imbuh Sutris (45) warga lainnya.

Kesulitan mengurung unggas juga dirasakan para peternak itik tradisional. Biasanya, itik- itik peliharaan hanya dikandangkan malam hari. Pagi hari digembalakan ke sawah. Setelah kenyang, dibiarkan bebas berenang di sungai atau selokan sebelum digembalakan lagi hingga sore hari. Bila itik- itik tersebut harus dikandangkan, akan menambah biaya pemeliharaan.

''Ya, jelas repot. Justru digembalakan itu, itik menjadi sehat karena bisa mencari makanan seperti sisa gabah, keong dan binatang kecil lainnya di sawah. Toh, seluruh itik saya sudah divaksin petugas beberapa waktu lalu,'' kata Budi. (G10-67)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA