| Senin, 12 Februari 2007 | SALA |
Puluhan Ayam Mati Diserang TeteloKLATEN-Puluhan ayam kampung milik warga Desa Jogoprayan, Kecamatan Gantiwarno dua pekan ini mati mendadak. Subdin Peternakan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan memastikan kematian itu disebabkan serangan virus Newcastle Disease (ND) atau tetelo. ''Setelah kami cek dengan tes cepat hasilnya bukan karena Avian Influenza (AI). Penyebab kematian unggas dipastikan karena ND,'' ujar Kasubdin Peternakan, Ir Wiwied Pudjiastuti Sabtu (10/2). Laporan kasus kematian unggas di Gantiwarno tergolong baru. Sebab sebelumnya tidak ditemukan unggas mati. Kasus AI hanya ditemukan di kecamatan Bayat yang ada di sebelah timurnya. Kendati bukan AI, penanganan yang dilakukan tetap dengan standar dalam skala yang kecil. Hanya dilakukan penyemprotan pada kandang warga dan tidak ada pemusnahan. Dia meminta warga tidak panik dan tetap memelihara unggas. Asalkan kandang bersih baik AI atau ND tidak akan menyerang. Sampai saat ini Subdin Peternakan terus menyemprot kandang tidak hanya di wilayah yang ditemukan kasus tetapi juga di wilayah yang aman. Sebab sudah tiga kasus kematian unggas karena AI ditemukan yakni di Desa Wanglu, Trucuk, Prambanan dan Wiro, Bayat. Sejak dua bulan ini jumlah unggas yang mati baik ayam dan puyuh sudah mencapai angka di atas 5.000 ekor. 20 Ekor Camat Gantiwarno, Sugeng Haryanto mengatakan jumlah ayam kampung yang mati memang lebih dari duapuluh. ''Sejauh ini hanya di satu desa dan di desa lainnya hanya satu atau dua ekor saja,'' ujar dia. Ayam yang mati itu rata-rata baru berusia beberapa bulan. Sebelum mati tidak ada gejala apa pun secara fisik. Sore masih sehat dan paginya ditemukan mati di beberapa rumah warga. Berdasar temuan itu, kecamatan langsung melaporkan ke Subdin Peternakan. Beberapa ayam dites ternyata hasilnya negatif AI. Selain di Jogoprayan, kematian sporadis juga terjadi di desa lainnya. Hanya saja jumlahnya tidak terlalu besar. Saat ini semua wilayah dipantau untuk antisipasi kemungkinan serangan AI. Sebab jika serangan itu massal akan menyebabkan kerugian ekonomi warga. (H34-67) |