| Senin, 12 Februari 2007 | NASIONAL |
Pemprov Usut Sejumlah Rekening
KLATEN- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Jateng sedang menyelidiki sejumlah nomor rekening yang digunakan oknum tak bertanggung jawab untuk menipu pegawai jajaran dinas tersebut di sejumlah kabupaten/kota. Modus penipuan dengan mengaku pejabat teras di Dinas P dan K itu ujung-ujungnya meminta ditransfer uang dengan iming-iming bantuan. ''Kami sudah meminta rekening itu ditutup dan diusut. Sebab Pemprov tidak pernah menelepon kepala dinas atau pejabat di daerah untuk meminta uang sebagai imbalan bantuan,'' ujar Kepala Dinas P dan K Jateng, Widadi SH di hadapan peserta silaturahmi guru dan kepala sekolah se eks-Karesidenan Surakarta di Klaten Sabtu (10/2). Dari penyelidikan, pelaku biasanya menelepon kepada calon korban dengan mengatakan mendapat bantuan dana dari pemprov. Sasarannya adalah kepala dinas di kabupaten/kota dengan iming-imingi mendapatkan bantuan dana pendidikan baik blockgrant, Biaya Operasional Sekolah (BOS), RKB dan lainnya. Syaratnya, oknum itu meminta ditransfer dana pendamping sebesar 5% dari dana yang akan turun. Modus tersebut muncul sejak beberapa bulan terakhir terutama pascagempa 27 Mei 2006. Untuk mencegah jatuhnya korban, dia sudah mengeluarkan surat edaran kepada semua kepala dinas di kabupaten/ kota agar jangan percaya aksi itu. Sebab, semua bantuan yang berasal dari pemerintah sudah tidak lagi diterimakan melalui rekening kepala dinas atau kepala sekolah. Tetapi diterimakan melalui rekening Pemkab atau Pemkot. Bahkan gaji guru wiyata bakti pun lewat rekening Pemkab. Jika menemukan pelaku secara langsung meminta, dia meminta agar menangkap dan menyerahkan ke polisi. Apakah sudah ada korban? Dia enggan mengungkapkannya. Namun sudah ada 10 kabupaten/kota ditemukan kasus serupa. Kasus itu juga sebatas dikoordinasikan dengan Polda. ''Sampai saat ini belum ada cukup bukti. Apalagi untuk mengetahui pemilik rekening tidak mudah,'' lanjut dia. Selain imbauan, Pemprov juga menggelar sosialisasi ke semua daerah. Dari penyelidikan sementara, rekening pelaku semua berasal dari Jakarta. Tidak ada yang berasal dari daerah. (H34-60) | ||||