| Senin, 12 Februari 2007 | NASIONAL |
Orangnya Boleh Tua, Koran Tetap MudaMAJU ke panggung peringatan HUT Ke-57 Suara Merdeka di Aula Kantor Jl Kaligawe, apa yang kali pertama diingat Pemimpin Umum Ir Budi Santoso? Petuah calon mertua, begitu katanya. Baginya, ''kisah apel'' dengan H Hetami, pendiri Suara Merdeka, memiliki seribu warna. Alih-alih mengapeli sang anak, ayahanda Ny Sarsa Budi Santoso itu justru acap mendaulat Budi Santoso menjadi sopir pribadi. ''Ngalor-ngidul, Bapak cerita soal SM, sambil kakinya keluar sedikit dari pintu. Saya yang biasanya nyetir mobilnya, jip tanpa pintu. Waktu itu kantor masih di Tawang. Dari situlah, Bapak sering memberi wejangan,'' kenangnya disambut tawa riuh keluarga besar SM yang hadir dalam acara HUT itu. Sang istri, Ny Sarsa, yang duduk di deretan paling depan bersama keluarga besar H Hetami dan jajaran manajemen pun hanya mesam-mesem. Satu hal yang dikenang dari Hetami, lanjutnya, adalah pesan-pesannya mengenai pekerjaan. Tiap malam usai ''wakuncar'' dengan calon mertua, pesan yang didapatnya waktu itu dia catat. Kelak, ketika dia kemudian menjadi penerus manajemen SM, beberapa petuah wartawan senior itu jadi ilham budaya perusahaan di koran ini. ''Yang paling saya ingat, 'orang-orangnya pasti akan tua dan mati, tapi korannya harus tetap muda'. Ini saya tangkap jadi budaya perusahaan,'' jelas Presiden Direktur PT Suara Merdeka Press itu. Pesan itulah, kata dia, salah satu yang mengilhaminya mengubah format baru koran ini menjadi 8 kolom, seperti yang mulai kemarin diterima pembaca. Tetapi buru-buru dia menambahkan, makna muda di sini tak berarti harus baru. Merdeka Bersuara Karena itu, ketika Suara Merdeka tampil lebih mungil, format perwajahannya pun tidak boleh mangklingi. Alasannya, banyak koran yang terpaksa mati, lantaran bentuk barunya justru tak dikenali publik. Ketakutan perubahan berlebihan itu rupanya juga jadi pesan pembaca koran ini. Melalui surat pembaca yang dimuat di harian ini, Indra Ari, warga Bakal RT 5 RW I Guntur, Demak, berharap pembaca SM yang mayoritas orang Jawa itu bisa membuktikan bahwa wong Jawa bukan bodho, elek, plinthat-plinthut, ngeyelsan, munafik srei lan dengki seperti banyak dilontarkan para budayawan. ''Setiap nenem enjang (pukul 06.00) kuterima koran tersayang. Bukan dengan gaya lemparan loper khas dunia Barat, tapi terulur sopan dari tangan pemilik wajah penuh senyum berkembang, begitu njawani. Memang, barangkali bisa menggambarkan rasa dan isi koran yang dia antarkan. Saya berharap, koran ini tetap memegang teguh prinsip merdeka bersuara, tak pernah menggiring pembacanya ke arah kepentingan kelompok tertentu,'' tulisnya. Managing Director Suara Merdeka Press Kukrit Suryo Wicaksono mengatakan, meski masa depan surat kabar pada 2020 diprediksikan masuk museum, dia optimistis potensi Suara Merdeka sebagai media perekat komunitas Jawa Tengah masih bisa berkembang. ''Karena itu, janji SM, koran ini harus lebih padat, cerdas, dan mengerti pembaca,'' ujarnya. Soal bahasa, Wapres Republik BBM Ucup Kelik yang menjadi bintang tamu di acara itu dengan kocak berpesan agar redaksi perlu berhati-hati dengan penggunaan bahasa jurnalistik. Olah lempar kata ala Kelik dan pengawalnya, Aldo, pun kontan jadi ajang pengocok perut selama acara berlangsung. Dalam kesempatan itu, diumumkan wartawan berprestasi tahun 2006. Untuk peringkat satu Anton Wahyu Hartono, disusul Abdul Muis, Agus Wahyudi, Achiar MP, dan Muhammadun Sanomae. Untuk karyawan terbaik Imam Saidi (Departemen Keuangan), Hudawi (Kepala Perwakilan Pantura), Budi Susanto (Manajemen SDM), Rina Rachmawati (Divisi Pembukuan), dan Gatot Tri (Kepala Perwakilan Banyumas). Diumumkan juga desk terbaik peringkat satu Jateng Utara, sedangkan kedua dan ketiga, Kota dan Olahraga. (Renjani PS-60) |