logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Februari 2007 NASIONAL
Line

Analisis ekonomi

Ekonomi Pascakrisis


SRI ADININGSIH

TAHUN 2007 yang mestinya membe-rikan harapan perbaikkan ekonomi setelah gejolak ekonomi akhir 2005 nampaknya bisa menguap lagi. Akhir tahun lalu hingga memasuki tahun baru kita masih memiliki harapan yang tinggi bahwa perekonomian akan pulih dari gejolak 2005, sehingga kehidupan masyarakat akan membaik. Namun harapan yang tinggi tersebut nampaknya mulai melemah seiring dengan berbagai kejadian ataupun perkembangan baru dalam perekonomian kita akhir-akhir ini. Perbaikkan dalam pengelolaan ekonomi belum nampak hasilnya, justru berbagai ketidak mampuan kita mengatasi permasalahan, khususnya dalam transportasi ataupun bencana alam mengemuka dan membawa dampak yang serius bagi kehidupan masyarakat.

Padahal memasuki tahun 2007 ini kita mestinya patut bersyukur dan berlega hati karena sewindu sudah badai krisis ekonomi berlalu dari negara kita yang tercinta ini.

Sayangnya justru memasuki satu dekade pasca krisis nampaknya perekonomian yang diharapkan berkembang semakin sehat, kuat dan efisien masih jauh dari harapan. Ternyata kita tidak belajar banyak dari krisis ekonomi yang lalu. Sehingga baru satu tahun ekonomi kita dapat dikatakan pulih dari krisis ekonomi pada 2004 yang lalu, goncangan ekonomi yang oleh Bank Dunia dikatakan sebagai ìMini Crisisî dalam pasar valuta asing sudah menghantam kita. Dimana pada Agustus 2005 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tergoncang cukup keras sehingga sempat tembus angka Rp12.000.

Meskipun reformasi ekonomi memang telah dilaksanakan di segala bidang, dimulai dengan Program IMF dalam rangka pemulihan ekonomi Indonesia yang tertuang dalam 26 Letter of Intent (LOIs) hingga akhir tahun 2003, hingga sekarang proses reformasi ekonomi juga belum selesai. Namun perbagai kebijakan ekonomi tersebut, yang dilanjutkan dengan White Paper yang diluncurkan pada akhir 2003 untuk mengakiri program IMF, serta dilanjutkan dengan berbagai paket kebijakan ekonomi di bidang infrastruktur, investasi dan keuangan belum mampu mengatasi permasalahan dasar ekonomi kita.

Bahkan kemiskinan dan pengangguran cenderung naik akhir-akhir ini berdasarkan data BPS. Dimana tingkat kemiskinan yang turun secara konsisten dari tahun 1999 (23,4%) hingga awal 2005 (15,97), naik lagi menjadi 17,75% pada Maret 2006. Sementara pengangguran meskipun pada Maret 2006 (10,28%) menurun dibandingkan Februari 2005, namun trend-nya masih naik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya (9,85% pada tahun 2004). Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat masih sangat berat. Dalam kondisi seperti itu kita masih dihantam dengan berbagai bencana baik alam ataupun akibat kesalahan manusia sehingga hampir 400.000 orang di Jakarta dan sekitarnya mengungsi dan mengalami kerugian yang tidak sedikit. Banyak juga dunia usaha yang mengalami kerugian yang serius, bahkan industri di KBN Cakung sempat lumpuh sekitar 1 minggu. Belum lagi daerah lainnnya juga banyak yang mengalami bencana, sehingga harga beras yang memang sudah naik sebelum banjir, semakin melejit membuat kehidupan masyarakat semakin berat. Sehingga tahun 2007 ini nampaknya tidak akan merupakan tahun yang mudah bagi Indonesia.

Meskipun badai krisis telah berlalu satu dekade yang lalu, kita bahkan sudah melunasi utang pada IMF, demikian juga CGI sudah dibubarkan ternyata kondisi ekonomi kita belum banyak berubah. Keterpurukkan ekonomi dan kehidupan yang berat masih harus kita hadapi. Negara kita sudah berusaha untuk menghilangkan predikat îpasienî IMF dan stigma sebagai negara îmiskinî dengan dibubarkannya CGI. Tapi ternyata kondisi ekonomi kita masih sama saja. Lihat saja berbagai permasalahan yang kita hadapi akhir-akhir ini dan juga peringkat kita dalam hal daya saing ataupun iklim investasi, masih saja terpuruk. Kita masih berada pada jajaran negara ketiga yang biasanya dicap miskin karena masih perlu bantuan dari negara lain dalam pembangunannya, khususnya dalam bidang pendanaan. Masalah dan tantangan yang kita hadapi masih tipikal yang dihadapi oleh negara miskin dan sedang berkembang, yaitu masalah kemiskinan, pengangguran, infrastruktur, kelembagaan, KKN, kepastian hukum ataupun masalah terkait dengan sumber daya manusia yang kualitasnya rendah. Sehingga kita tidak perlu malu untuk mengakui bahwa kita memang masih pada kelas itu, perlu dukungan dari semua pihak dan kerja ekstra keras untuk mengatasinya. Tidak dengan berbagai manuver ataupun jargon-jargon yang hanya akan meninabobokan kita.

Padahal kemajuan ekonomi yang menonjol pada saat ini adalah terjaganya stabilitas makro, ternyata juga sangat rapuh, karena selain didukung oleh dana internasional jangka pendek juga suku bunga yang tinggi, akhirnya juga memukul investasi. Sehingga investasi pada kuartal 3 tahun 2006 yang lalu masih mengalami kontraksi 0,2%. Tentu bukan suatu prestasi. Sehingga pertumbuhan ekonomi juga masih saja tidak bergerak dikisaran 5%. Target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 6% nampaknya jauh dari harapan. Apalagi sektor industri meskipun sudah mulai rebound masih menghadapi tantangan yang berat, belum tentu mampu mengatasi proses deindustrialisasi yang tengah terjadi. Apalagi berbagai permasalah sektor industri nampaknya juga masih saja belum dapat diatasi sampai sekarang.

Sehingga kita nampaknya belum dapat bernafas lega satu dekade setelah krisis? Kapan?(Dr Sri Adiningsih, Staf Pengajar Fakultas Ekonomi UGM-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA