logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Februari 2007 MURIA
Line

Kelenteng Cu An Kiong Termegah di Indonesia

GRENGSENG menyambut datangnya Imlek di Kabupaten Rembang yang akan jatuh pada 14 Februari 2007 semaikin terasa. Di sejumlah kelenteng, beberapa hari terakhir ini banyak kegiatan.

Di Kota Lasem misalnya, sebagian warga keturunan Tionghoa secara suka rela kerja bakti di tempat-tempat pemujaan (kelenteng). Ada yang menyapu halaman, membersihkan lantai, membersihkan patung-patung, dan ada pula yang menghias ruangan.

Meski demikian tidak sampai terjadi kelumpuhan ekonomi, karena toko-toko tetap buka seperti pada hari-hari biasa. Sementara di pusat perbelanjaan lainnya, misalnya pasar juga berjalan normal.

Perlu diketahui, pada hari-hari menjelang datangnya Imlek, Kota Lasem selalu ramai. Sebab di kota itu merupakan pusat warga keturunan Tionghoa. Hal itu wajar, karena dalam catatan sejarah yang menyebutkan kota itu menjadi tujuan pertama ketika orang China masuk daerah Rembang.

Lasem yang juga dikenal sebagai kota batik kini memiliki tiga kelenteng, yakni Kelenteng Poo An Bo di Jl Karangturi VII/15. Kemudian Kelenteng Gie Yong Bio di Jl Babagan 7, dan Kelenteng Cu An Kiong di Jl Dasun 19.

Oleh kebanyakan warga Tionghoa meyakini Kelenteng Poo An Bio paling tua di antara kelenteng lainnya di Lasem. "Kelenteng Poo An Bio didirikan pada tahun 1740," kata pengurus TITD Tri Murti Lasem, Ir Rudy Hartono.

Selain tertua, Kelenteng Poo An Bio memiliki beberapa kelebihan, misalnya adanya gambar-gambar yang dilukis dengan mo pit, dan menggunakan tinta bak warna hitam. Lukisan tersebut menceritakan kisah tiga naga yang diberi nama Sam Kok, yang tokohnya bernama Liu Bei, Kwan Kong, dan Zhang Fe.

Sedang pada altar utama ditempatkan kongco (patung) Kong Tik Cun Ong atau Kwee Sing Ong.

Kemudian Kelenteng Gie Yong Bio, dikatakan pernah mengalami perpindahan tempat beberapa kali. Dulu, kelenteng itu di Jl Raya, kemudian pindah di Jl Babagan. Kelenteng ini dipugar pada tahun 1915.

Pada altar utama Kelenteng Gie Yong Bio terdapat kongco Tan Pan Tjiang atai Cik Macan dan Oei Ing Kiat (pemuda Tik). Ceritanya, pada tahun 1742 kedua orang tersebut pernah berjuang bersama dengan Raden Margono melawan penjajah Belanda, yang dikenal dengan perang Godo Balik.

Dewa Pelindung Laut

Sedang Kelenteng Cu An Kiong, oleh masyarakat Tionghoa di Lasem dipercaya sebagai kelenteng termegah dan terindah di Indonesia. Sebab sebagian besar bangunannya dihiasi ukir-ukiran hasil karya seniman dari Tiongkok. Pada bagian altar utama kelenteng ini ditempatkan patung Thian Siang Sing Bo yang diyakini sebagai dewa pelindung laut. (Djamal A Garhan-17)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA