| Senin, 12 Februari 2007 | MURIA |
Pasien DB di RSD Tak Dipungut Biaya
BLORA - Pasien demam berdarah (DB) yang dirawat di ruang perawatan kelas tiga Rumah Sakit Daerah (RSD) Blora, tidak dipungut biaya, asal keluarga pasien bisa menunjukkan kartu Asuransi Kesehatan Warga Miskin (Askeskin). Jika tidak memiliki Askeskin, pasien masih mendapatkan pelayanan gratis, asalkan keluarga pasien melengkapi diri dengan surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan perangkat desa. Kepala Badan RSD, dokter Darmasto menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien dari keluarga miskin tersebut, sama dengan pelayanan yang diterima pasien biasa yang dirawat di kelas tiga. Menurutnya, penggratisan biaya itu tidak berlaku bagi pasien yang tergolong miskin namun menghendaki dirawat di ruang perawatan kelas dua dan kelas satu. "Kalau pasien dari keluarga miskin dirawat di kelas dua atau kelas satu, mereka tetap harus membayar sesuai ketentuan yang berlaku. Penggratisan hanya untuk pasien miskin yang dirawat di kelas tiga dengan syarat tertentu seperti memiliki kartu Askeskin," ucapnya. Dipenuhi Pasien Dia mengatakan, sejak merebaknya DB di Blora, rumah sakit yang dipimpinnya itu dipenuhi pasien. Dituturkan, daya tampung ruang rawat inap 125 tempat tidur. Pekan lalu, jumlah pasien yang menjalani rawat inap 170 orang. Mereka bukan hanya pasien DB melainkan juga pasien yang menderita sejumlah penya-kit. Menyikapi membeludaknya jumlah pasien, BRSD menerapkan kebijakan penggunaan sejumlah ruangan yang sebelumnya tidak digunakan sebagai ruang rawat menjadi ruang rawat inap. Selain itu ada juga pasien yang ditampung di lorong-lorong ruang perawatan rumah sakit. "Terpaksa kami memanfaatkan kembali tempat tidur yang semestinya sudah waktunya digudangkan untuk melayani meningkatnya jumlah pasien. Tempat tidur tersebut kami tempatkan di sejumlah ruangan yang sebelumnya tidak dijadikan ruang perawatan,íí katanya. Beberapa waktu lalu BRSD, kata Darmasto, mendapatkan bantuan sejumlah tempat tidur dari instansi swasta. Dia mengharapkan bantuan yang sama dari sejumlah instansi yang ada di Blora. Menyikapi banyaknya keluhan dari masyarakat terkait pelayanan kurang memuaskan, dia menyatakan, sangat memahaminya. Menurutnya, jumlah perawat sangat terbatas, padahal jumlah pasien membeludak. Dia mengatakan, untuk mendiagnosa penya-kit DB, BRSD memiliki laboratorium dengan peralatan baru dan otomatis. Dikatakan, hasil uji laboratorium berbeda antara laboratorium satu dengan yang lain jika sampel darah yang diuji, pengambilannya tidak dalam waktu bersamaan. "Terutama untuk penyakit DB, perkembangan trombosit darah pasien, berbeda dari waktu ke waktu,íí tandasnya.(H18-17) |