| Senin, 12 Februari 2007 | KEDU & DIY |
SD Bentrokan Sawangan Kekurangan Tenaga GuruBOROBUDUR -SD Negeri Wonolelo 3 di Dusun Bentrokan Kecamatan Sawangan untuk kelas jauhnya , membutuhkan tambahan guru, karena sekolah yang terletak di punggung Gunung Merbabu itu, hanya dikelola oleh tiga guru. Padahal siswanya lebih dari 100 anak. ''Kami minta tiga guru yang dulu ikut merintis sekolah ini ditugaskan kembali ke Bentrokan,'' pinta Tumin, guru perintis SD kelas jauh itu, kemarin. Ia menyebutkan, tiga guru dimaksud antara lain Joko Suprapto, bertahun-tahun wiyata bakti di Bentrokan. Setelah diangkat menjadi CPNS, oleh pemda ditempatkan di Desa Kragilan, Kecamatan Pakis. Akibat kebijakan itu berpengaruh pada kelancaran kegiatan belajar-mengajar, karena SD Bentrokan tak diberi gantinya. Ia mengemukakan, guru yang mengampu enam kelas yakni dirinya bersama Jini juga perintis, dan seorang guru wiyata bakti, Suharni. Yang dimaksud enam kelas yakni kelas I sampai VI. Sekolah yang berada di Dusun Bentrokan, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, itu, memiliki tiga ruang kelas, kemudian disekat dengan triplek menjadi enam kelas. Tiap kelas dihubungkan dengan pintu, tempat guru berdiri untuk mengawasi dua kelas sekaligus. Di sekolah yang terpencil itu, prasarananya sangat terbatas. ''Ruang guru misalnya didirikan di emperen kelas dengan dinding batako. Semen dibantu kepala sekolah Rp 100.000, selebihnya patungan guru,'' ujar Tumin. Sedangkan pasir dikumpulkan oleh para siswa kelas III sampai VI tiap Sabtu. Dengan membawa ember mereka berjalan kaki sejauh 500 meter ke dasar Kali Bentrok. Pembuatan batako dikerjakan guru usai mengajar. Sehingga pulang ke rumah sore hari. Kurang Selawe Empat belas tahun silam, ketika Suara Medeka berkunjung ke sekolah itu, siswa-siswa masih menyebut angka 35 sebagai kapat sasur, 175 rong atus kurang selawe, 125 rolas jinah limo, sepeda motor Vespa disebutnya Honda meteng atau hamil. Karena bentuknya yang mblenduk. ''Ucapan itu ditirunya dari ucapan ibunya yang sering menjual hasil bumi ke pasar . Lebih dari 14 tahun mereka kami ajar menyebut dengan benar." Tumin menginginkan, sekolah yang dirintisnya bersama Jini bersama teman-temanya mulai sejak berdiri 1990 diberi kepercayaan untuk mandiri, sebagai SD Wonolelo 5. Juga dibantu prasarana gedung yang memadai. (pr-39) |