logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Februari 2007 INTERNASIONAL
Line

Fatah dan Hamas Tetap Bertikai

RAMALLAH - Meski Fatah dan Hamas telah mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan koalisi, persaingan di antara dua kelompok itu tetap saja berlangsung.

Pejabat-pejabat Fatah dan Hamas mengatakan, kesepakatan itu terutama bertujuan untuk mengakhiri bentrokan di antara para pendukung mereka. Sedikitnya 90 orang tewas dalam bentrokan pendukung Hamas dan Fatah di Jalur Gaza.

Dampak dari bentrokan itu, Fatah dan Hamas mendapat tekanan dari dalam dan luar negeri. Jajak pendapat menyatakan, sebagian besar rakyat Palestina tidak percaya lagi pada kedua kelompok itu. Alasannya, kedua kelompok itu lebih sering berselisih ketimbang menyelesaikan masalah ekonomi Palestina.

''Kesepakatan Makkah pada dasarnya merupakan gencatan senjata antara Fatah dan Hamas. Gencatan ini mungkin bertahan setahun atau dua tahun,'' kata seorang pejabat Fatah.

Presiden Mahmud Abbas menginginkan kesepakatan Makkah menjadi dasar untuk membentuk pemerintahan baru yang mengakui Israel dan menerima pakta-pakta perdamaian sementara dengan negara Yahudi itu.

Abbas juga berharap, kesepakatan Makkah dapat mendorong Barat untuk mengakhiri sanksi-sanksi finansial terhadap pemerintahan Palestina. Namun kesepakatan itu tidak secara eksplisit mengakui Israel. Padahal hal itu merupakan salah satu syarat yang diminta Barat dan kuartet mediator.

Israel Abai

Uni Eropa (UE) menyatakan akan mempelajari kesepakatan itu. Amerika Serikat bersikap menunggu dan tidak mau terburu-buru menilai kesepakatan itu.

Para pejabat Israel dengan tegas menyatakan, kesepakatan Fatah-Hamas itu tidak memenuhi tiga syarat yang ditentukan kuartet mediator. Ketiga syarat itu adalah mengakui Israel, menghentikan cara-cara kekerasan, dan menerima pakta-pakta perdamaian sementara dengan Israel.

Perdana Menteri Ehud Olmert menyatakan Israel tidak mau bersikap apa pun atas kesepakatan Makkah itu. ''Israel tidak menolak atau menerima kesepakatan itu,'' kata Olmert. ''Pada tahap ini, seperti komunitas internasional, kami bersikap mempelajari apa yang telah disepakati itu.''(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA