| Senin, 12 Februari 2007 | INTERNASIONAL |
Israel Lanjutkan Penggalian di Al-AqsaJERUSALEM - Israel tidak menghiraukan seruan untuk menghentikan penggalian di kompleks Masjid Al-Aqsa di Jerusalem Timur. Kendati masyarakat muslim dunia memprotes, pengerjaan proyek itu masih tetap berlanjut Minggu kemarin. Dengan dikawal ketat polisi, para pekerja kembali menggarap penggalian itu setelah sehari sebelumnya jeda karena hari Sabbath Yahudi. Padahal, ketegangan di kota itu terus meninggi sejak pekan lalu, yakni semenjak Israel memulai pengerjaan penggalian untuk pembuatan jalan baru menuju kompleks masjid. Liga Arab Minggu kemarin mengecam Israel dan minta kuartet mediator perdamaian Timur Tengah untuk memaksa Israel menghentikan penggalian itu. ''Liga Arab minta pada anggota kelompok empat untuk menekan Israel,'' demikian pernyataan Liga Arab. Israel berkilah, penggalian di sekitar Masjid al-Aqsa bertujuan menyelamatkan artefak karena di tempat itu akan dibangun jembatan pedestrian menuju Al-Aqsa. Umat Islam khawatir pekerjaan itu merusak fondasi masjid berusia 1.400 tahun tersebut. Menurut Liga, tindakan Israel itu merupakan kejahatan. Pelanggaran atas masjid itu merupakan pelanggaran terhadap keyakinan setiap muslim. Liga juga minta kelompok Arab di PBB untuk minta sidang darurat Dewan Keamanan guna menghentikan penggalian tersebut. Ulama terkemuka pemerintah Mesir, Syekh Mohamed Sayed Tantawi, menyerukan aksi global untuk melindungi masjid itu. Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan, penggalian itu dapat merugikan upaya untuk menghidupkan kembali proses damai Israel-Palestina. Sesuai Jadwal Juru bicara Kepolisian Israel Micky Rosenfeld mengatakan, tidak terjadi insiden pada Minggu pagi kemarin. Dia menambahkan, pekerjaan dilanjutkan kemarin sesuai jadwal. Jumlah personel polisi di dan sekitar Jerusalem timur ditambah menjadi sekitar 2.000 orang. Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sebelum memimpin sidang kabinet kemarin sekali lagi mengecam para pemrotes. Dia mengatakan, orang-orang berniat buruk di dunia Arab menjadikan pekerjaan penggalian itu sebagai alasan untuk mengobarkan kebencian dan kekerasan. Struktur jalan menuju kompleks yang sudah sekarang ini, kata Olmert, dalam kondisi berbahaya dan harus direnovasi. ''Pekerjaan itu dilakukan di dalam area yang betul-betul di bawah tanggung jawab Israel dan pemerintahan sehari-hari, dan berada di bawah kedaulatan penuh kami,'' tandas Olmert. Pada Jumat lalu terjadi bentrokan antara 200 personel polisi antihuru Israel dengan warga Palestina di sekitar masjid. Polisi bersenjatakan granat kejut dan gas pemedih mata membubarkan para pemrotes bersenjatakan batu. Pada Sabtu lalu, remaja-remaja Palestina melempari tentara Israel, membakar bendera Israel dan menghantam sebuah bus wisata Kanada dengan batu-batu. Kompleks puncak bukit di Kota Tua Jerusalem selama ini memang menjadi salah satu sumber pertikaian antara Palestina dan Israel. Kompleks itu dianggap sebagai tempat tersuci dalam tradisi Yahudi. Di kompleks itu, terletak Tembok Ratap yang menjadi tempat bagi orang Yahudi memanjatkan doa.(rtr-gn-25) |