logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 12 Februari 2007 BANYUMAS
Line

Batik Banyumasan Terancam Punah

PURWOKERTO - Keberadaan batik banyumasan yang menjadi salah satu ciri khas kabupaten itu, kini mulai terpinggirkan. Batik yang pernah berjaya pada era 1960-an itu terdesak produk batik dari daerah Pekalongan.

Jika Pemkab Banyumas tidak memberi perhatian yang serius, beberapa tahun yang akan datang keberadaannya akan tinggal kenangan saja.

''Saat ini jumlah pengusaha batik di Banyumas hanya tinggal beberapa orang. Generasi penerusnya juga sudah tidak ada. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, batik itu terancam musnah,'' kata Sugito, pengusaha batik asal Sokaraja Lor, Banyumas, kemarin.

Ia mengatakan, saat ini hampir sebagian besar pekerja batik didominasi orang-orang tua yang umurnya lebih dari 50 tahun.

Jika keadaan itu dibiarkan tanpa regenerasi, produksi batik Banyumas itu bisa terhenti. Sebab, sudah tidak ada lagi masyarakat yang dapat membuat batik.

Ia berharap Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah memperhatikan keberadaan batik banyumasan ini.

Antara lain dengan memberikan pelatihan tentang pembuatan batik banyumasan.

Sementara itu, batik yang masih ada saat ini adalah jenis batik cap, sedangkan batik tulis sudah sangat sulit didapat.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan jenis batik lain seperti batik khas Solo, Yogya, ataupun Pekalongan, batik banyumasan mempunyai ciri khas yang berbeda.

''Ciri khas batik banyumasan warnanya cenderung sogan (cokelat), hitam, dan kuning, sedangkan motifnya bunga, kawung, dan parang,'' terangnya.

Jenis Kain

Daerah pemasaran batik banyumasan sekitar Karesidenan Banyumas, Kebumen, Bumiayu, juga Jakarta.

Tentang bahan baku, kata dia, Pekalongan merupakan salah satu kota pemasoknya. Harga bahan baku itu Rp 7.000 - Rp 35.000 per yard (ukuran kain), bergantung pada jenis kainnya.

''Jenis primisima kelas I harganya sekitar Rp 10.000, primisima kelas II Rp 7.000, dobi Rp 12.000, dan sutra Rp 35.000,'' jelasnya.

Ia mengatakan, saat ini harga kain batik banyumasan berkisar Rp 50.000 - Rp 70.000, bergantung pada jenis bahannya.

Usaha itu dirintis sejak 1971, menggunakan merek "R". Itu diambil dari nama Rosidi, salah satu tokoh batik banyumasan.

Perintis batik itu sudah meninggal dan tidak mempunyai anak. Akhirnya, Sugito dipercaya untuk meneruskan usaha tersebut. (wan-71)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA