logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Februari 2007 SALA
Line

Petani Mulai Beralih ke Pupuk Kandang

  • Tekan Biaya Tanam

DI TENGAH mahalnya pupuk urea, sebagian petani di wilayah Kecamatan Banyudono, Boyolali mulai beralih ke pupuk kandang. Alasannya, pemakaian pupuk kandang menghemat biaya dan meningkatkan kesuburan tanah.

Munculnya kesadaran tersebut bermula ketika petani mengeluhkan mahalnya harga pupuk buatan pabrik. Harga pupuk urea kini meroket mencapai Rp 60.000- Rp 65.000/sak ukuran 50 kg. Selain harganya mahal, setiap masa tanam juga sulit dicari. Seringkali mereka harus keluar daerah untuk membeli pupuk atau terpaksa memesan terlebih dahulu kepada pengecer.

Keputusan memakai pupuk kandang diawali para petani yang bertanam sayuran seperti cabai, pare dan terung. Ternyata, tanaman yang dipupuk dengan pupuk kandang tumbuh lebih subur. Biaya tanam pun bisa ditekan karena pemakaian pupuk urea bisa dikurangi. Melihat keberhasilan tersebut, para petani yang menanam padipun mulai ikut-ikutan.

''Meniru yang baik saya rasa tidak ada salahnya,'' ujar Miranto (42) petani Desa Jipangan, Banyudono.

Berbeda dengan pemupukan urea yang dilakukan setelah dua minggu tanam, pupuk kandang harus ditaburkan sebelum pengolahan tanah. Hal itu dimaksudkan agar pupuk bisa menyatu dengan tanah dan bisa diserap akar tanaman secara optimal. Setiap sawah satu patok berukuran 2.600 m2 membutuhkan pupuk kandang 5 - 7 bak mobil pikap dengan harga Rp 30.000/bak mobil pikap.

Keputusannya ternyata tepat. Rumpun padi yang ditaburi pupuk kandang tumbuh lebih subur dan hasil panen lebih baik. Yang lebih penting, tanaman padi lebih tahan serangan hama seperti wereng dan sundep. Otomatis, biaya yang dikeluarkan pun bisa diirit karena petani tak perlu membeli obat- obatan pembasmi hama. Pemakaian pupuk urea juga lebih sedikit. Pemakaian pupuk kandang dilakukan setiap 3- 4 kali panen.

''Panen kemarin, sawah saya yang dipupuk kandang laku Rp 3,6 juta. Sedangkan sawah tetangga yang hanya mengandalkan pupuk urea ditebas hanya laku Rp 3 juta,'' ujar petani lainnya, Warto.

Pemakaian pupuk kandang juga menguntungkan para peternak bebek, kambing atau kerbau. Kotoran ternak yang semula tidak dipakai kini bisa laku. Mereka pun kini merasa eman membiarkan kotoran ternaknya hanya teronggok di lubang penampungan. Diatas lubang kemudian diberi penutup agar kotoran tetap kering tidak terkena air hujan.

''Senang juga pupuk kandang kini mulai dicari petani. Petani sendiri yang mengambil di kandang dengan harga Rp 30.000/bak mobil pikap,'' ujar Gatot (32) peternak bebek di Dukuh Karanglegi, Desa Jembungan, Banyudono. (Joko Murdowo-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA