logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Februari 2007 PANTURA
Line

''Rekasa Temen Arep Tuku Beras''

YU MAH (55), warga Desa Rowokebu, sudah di sekitar Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan sejak pukul 08.00 untuk menunggu kedatangan tim dari Dolog yang dikabarkan akan menggelar operasi pasar.

Selain dia, ratusan warga lainnya juga berjejal di tepi jalan raya. Sebagian membawa karung dan sebagian lagi tas. Begitu melihat truk pengangkut beras, warga pun berlarian mengejar.

Dalam sekejap, ratusan orang sudah berjejal di sekeliling truk pengangkut beras. Tanpa dikomando, warga terus merangsek ke depan. Sebagian bahkan nekat naik ke atas truk dan langsung menyodorkan uang. Sementara itu, petugas belum siap.

Suasana menjadi semrawut, warga berebut minta dilayani. Mereka saling dorong sehingga banyak orang tua yang terjepit di tengah-tengah kerumunan. Empat petugas kewalahan.

Beberapa Jam

Kesemrawutan itu berlangsung beberapa jam. Sekitar pukul 10.30, Camat Supriyanto yang tengah menghadiri acara di Balai Desa Rowokembu keluar dan mencoba mengendalikan warga.

Truk pengangkut beras kemudian dibawa menjauh dari kerumunan warga. Operasi pasar pun dipindah ke halaman Balai Desa Rowokembu. Petugas kemudian meminta warga keluar dan mempersilakan masuk tiap 10 orang untuk antre. Beberapa saat kemudian mereka bisa antre dengan tertib. Hujan lebat mengguyur namun para pembeli tetap bertahan.

Mereka tetap sabar menunggu meski basah kuyup, demi bisa mendapatkan satu kantung plastik berisi 5 kg beras dengan harga Rp 18.500. Sebanyak 7,5 ton beras akhirnya ludes sekitar pukul 14.00.

''Rekasa temen, arep tuku beras ndadak ngantre patang jam tur kudanan,'' ucap Rukayah (35), warga Wonopringgo lainnya, sambil menahan napasnya yang terus memburu.

Camat Wonopringgo Supriyanto bertekad akan memperbaiki teknis distribusi pada operasi pasar berikutnya. ''Kami juga minta masyarakat bisa antre dengan tertib agar semua bisa dapat secara merata,'' tuturnya.

Warga yang ditemui mengaku kecewa dengan operasi pasar yang semrawut.

''Seharusnya penjualan dibagi beberapa tempat agar tak berdesakan dan semrawut seperti itu. Untung saja tak ada yang pingsan atau meninggal karena berdesakan,'' ujar Hardi (25), warga Jetakkidul, yang tak jadi beli beras karena tak mau berdesakan. (Muhammad Burhan-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA