logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Februari 2007 PANTURA
Line

Cegah Banjir Susulan, Warga Minta Peninggian Tanggul

PEKALONGAN - Untuk mencegah banjir datang lagi, warga Kelurahan Banyuurip Alit, Kecamatan Pekalongan Selatan meminta peninggian tanggul irigasi di wilayah itu. Sebab, permukiman mereka hampir selalu tergenang banjir pada saat hujan lebat.

Seperti dialami warga Kamis (1/2) dan Jumat (2/2), wilayah itu mengalami banjir hingga ketinggian 40 cm. Air meluap dari saluran irigasi akibat hujan yang mengguyur Kota Pekalongan waktu itu.

Faizin (35), warga RT 3 RW 2, Jumat (9/2), menuturkan, wilayah Banyuurip Alit juga sering dilanda banjir akibat air kiriman dari Bumirejo, Kecamatan Pekalongan Barat. ''Air kiriman sering tidak bisa tertampung saluran drainase sehingga meluap ke wilayah kami,'' ujar dia. Kondisi itu, warga alami setiap tahun.

Curah hujan yang diperkirakan masih akan tinggi membuat warga kelurahan itu harus tetap waspada. Karena air bisa sampai masuk ke rumah warga, seperti banjir waktu itu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Pekalongan Ir Muhammad Feizal mengemukakan, Banyuurip Alit merupakan wilayah dataran rendah sehingga rawan banjir.

Pihaknya akan mengkaji penyebab banjir yang diduga karena tanggul irigasi di wilayah itu rendah. Upaya pencegahanya, harap dia, ada upaya bersama di masyarakat untuk mencegah luapan air dari saluran. Antara lain pembuatan tanggul sementara dari karung pasir.

Dia juga akan mengusulkan adanya penanganan integral dari sejumlah pihak terkait untuk mencegah banjir di wilayah Kota Batik lainnya, seperti Kelurahan Pabean dan Panjang Wetan (Kecamatan Pekalongan Utara) dan Pasirsari (Pekalongan Barat).

Pihaknya mengemukakan, belum mempunyai peta drainase Kota Pekalongan secara menyeluruh. DPU bersama Bapeda tengah menyusun proposal untuk normalisasi sejumlah sungai dan saluran yang diperkirakan akan menelan dana Rp 3,5 miliar.

Namun, ujar dia, hal itu tidak menyelesaikan permasalahan banjir saat ini. Kota Pekalongan, lanjut dia, dilalui dua sungai besar, yaitu Bremi dan Pekalongan, yang pemeliharaannya merupakan kewenangan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Provinsi. Feizal menandaskan, pengerukan dua sungai itu sangat mendesak. (H26-69)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA