| Sabtu, 10 Februari 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANADemam Berdarah, Menggugat Budaya Bersih- Korban Demam Berdarah Dengue (DBD) berjatuhan di banyak daerah. Dari tahun ke tahun, penyakit pada musim peralihan itu selalu menjadi hantu bagi kehidupan masyarakat. Korban jiwa dan menumpuknya pasien di rumah sakit menjadi warna dominan setiap kali "musim DBD" tiba. Tanpa harus berdebat tentang status kemerebakan penyakit ini, apakah dicatat Dinas Kesehatan sebagai kejadian luar biasa (KLB) atau bukan, yang jelas terdapat siklus kehadiran yang reguler. Model-model penanganannya tidaklah selalu tergantung pada status kejadian, namun yang lebih ideal tentu bagaimana mempertinggi upaya-upaya preventif di luar tindakan penyelamatan. - Pengetahuan dasar tentang nyamuk Aedes aegepty sebenarnya sudah menjadi "milik publik", yang tanpa dikomunikasikan lagi pun kita yakini semua sudah tahu sebagai penyebab DBD dan chikungunya. Potensi nyamuk tersebut dalam penyebaran DB juga sudah sering disosialisasikan, yakni genangan air yang tidak terjaga. Tindakan-tindakan dan sikap terhadap genangan itu sering menjadi salah ketika kita menganggap enteng dengan merasa sudah bersih. Padahal "menjaga" dalam konteks kebersihan air itu harus terkawal dengan suatu pola tertentu. Pola itu adalah hidup bersih dan konsisten menghindarkan pengembangbiakan nyamuk. - Pengasapan di sejumlah kampung lewat unit-unit kemasyarakatan RT/ RW merupakan tindakan represif, sementara kita tetap mendorong agar langkah preventif dijadikan pola tanpa harus menunggu sampai tiba "musim DBD". Sepanjang tahun pola preventif itu dilakukan dengan secara konsisten menjaga jangan sampai terjadi pengembangbiakan nyamuk. Pilihan sikap tersebut jelas bermakna pembudayaan hidup bersih, dan itulah jawaban utuh yang sebenarnya dibutuhkan untuk melawan Aedes aegepty. Menanamkan budaya hidup bersih memang lebih sulit dibandingkan dengan memilih langkah represif, tetapi itulah pijakan yang terbaik. - Persoalannya, kampung-kampung sempit, lingkungan kumuh, serta kebiasaan membuang sampah sesuka hati justru lebih menonjol ketimbang melaksanakan gerakan hidup bersih. Setidak-tidaknya, pola hidup yang harus dikembangkan di lingkungan terkecil keluarga itu masih belum terhayati sebagai pilihan dibandingkan dengan risiko rentan terhadapancaman penyakit. Dan, memang, semua tidak mungkin tidak dimulai dari tingkat keluarga, baru kemudian dikembangkan ke unit-unit kemasyarakatan pada semua level. Gerakan kebersihan di lingkup RT hanya akan sukses bila didukung oleh kebersihan rumah tangga-rumah tangga. Begitu seterusnya. - Diskursus tentang budaya hidup bersih rasanya tidak akan pernah usai. Kita boleh mengandaikannya sebagai cita-cita, ide, atau obsesi. Tetapi sesungguhnya hal itu bisa diwujudkan dengan kehendak yang kuat. Kalau kita kaitkan dengan sejumlah pemerintah daerah di Tanah Air yang mampu mengelola kebersihan kotanya, maka faktor kepemimpinan dan keteladanan merupakan kunci. Awalnya adalah konsep, lalu piranti pendukung baik berupa aturan maupun sarana, kemudian implementasi. Di balik itu tentu saja komitmen. Selama ini kita menangkap semuanya baru bergaung di tingkat konsep dan jargon, selebihnya tidak terkawal dalam pelaksanaan. - Hidup bersih tidaklah mungkin dikembangkan di suatu lingkungan tanpa kemauan pribadi-pribadi untuk mempolakannya. Dari kebiasaan membuang sampah, mengelolanya, tindakan terhadap genangan air baik di saluran-saluran maupun dalam rumah tangga, hingga kebersihan dalam arti keasrian lingkungan. Menghadapi penyakit seperti DBD jelas membutuhkan sikap preventif yang beraksentuasi sebagai budaya hidup. Ketika korban terus berjatuhan dari tahun ke tahun dengan kecenderungan penyebab yang boleh dikatakan sama, mengapa budaya hidup bersih tidak kita jadikan sebagai dorongan untuk menjadi penangkal preventif yang efektif? |