logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Februari 2007 NASIONAL
Line

Wapres: Pers Jangan Timbulkan Ketakutan Investor

  • Puncak Acara HPN di Samarinda

SM/dok KINERJA TERBAIK:Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam menyerahkan penghargaan kepada PWI Cabang Jawa Tengah yang dinilai sebagai cabang dengan kinerja terbaik periode 2005-2006. Penghargaan diterima Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo.(30)

SAMARINDA- Wakil Presiden Jusuf Kalla mengimbau kepada kalangan pers agar tidak menimbulkan ketakutan di masyarakat karena pemberitaan yang meresahkan. Karena ketakutan yang berlebihan bisa mengganggu perekonomian sehingga pertumbuhan melambat. ''Semua boleh diberitakan asalkan tidak berlebihan dan memperhatikan kepantasan,'' kata Wapres pada Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (DPN) 2007 di Gedung DPRD Kalimantan Timur di Samarinda, kemarin.

Dia mencontohkan pemberitaan secara berlebihan soal unjuk rasa pekerja yang disertai kekerasan. Padahal itu hanya satu- dua tetapi bisa membuat kesan Indonesia berbahaya dan tidak aman. Akhirnya investor asing enggan datang ke sini.

Demikian pula pemberitaan soal flu burung. Itu penting namun kalau tidak proporsional bisa berdampak negatif. Misalkan, jumlah turis berkurang karena semua disiarkan secara internasional. Maka, Kalla meminta wartawan agar benar- benar memperhitungkan dampaknya sebelum memberitakan sesuatu.

Di Amerika Serikat yang dikenal paling demokratis dan bebas, persnya juga bisa bersikap bijak dengan menunjukkan sikap yang terbaik bagi bangsanya. Seperti ketika mereka memberitakan soal tragedi peledakan gedung WTC di New York tanggal 11 September 2004. Dengan demikian pers bisa memberi manfaat bagi bangsanya.

Indonesia juga merupakan bangsa yang besar sehingga besar pula masalahnya. Di sinilah peranan pers dibutuhkan sesuai fungsinya.

Dia mengingatkan, demokrasi dan kebebasan pers bukanlah tujuan melainkan proses atau cara menuju tercapainya kesejahteraan. Kebebasan pers yang kebablasan bisa merusak masyarakat dan pada akhirnya juga merusak pers sendiri. ''Bayangkan kalau dunia usaha lesu, investasi berkurang maka iklan di media juga akan menurun'', kata Kalla.

Maka, diperlukan kebebasan pers yang bertanggung jawab. Untuk itu dia mendukung upaya penetapan standarisasi bagi wartawan, organisasi pers, dan penerbitan pers sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas dan profesionalisme.

Sebab yang diinginkan adalah pers yang bermartabat dan itu tak bisa dicapai dengan hanya menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar karena ongkosnya terlalu mahal. Selain standarisasi profesi perlu dijaga pula pelaksanaan kode etik pers.

Sebelumnya Ketua Umum PWI Pusat Drs Tarman Azzam juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap perkembangan kebebasan pers yang sudah sulit dikendalikan sehingga malah bisa menurunkan martabat wartawan dan profesi jurnalistik. Namun PWI sebagai organisasi profesi telah memikirkan langkah-langkah korektif dengan memperjuangan standarisasi profesi tersebut.

Konvensi Media

Rangkaian peringatan HPN 2007 dan Hari Ulang Tahun PWI ke-61 tersebut diawali dengan Konvensi Media Nasional yang diikuti oleh 600 wartawan se-Indonesia yang berlangsung di Hotel Borneo tanggal 8 Februari lalu.

Konvensi yang membahas peran pers dalam memberantas kemiskinan serta masalah manajemen pers itu menghadirkan pembicara Dr Faisal Basri, Prof Dr Ichlasul Amal, Bambang Harymurti, Ishadi SK, dan Adhy Trisnanto.

Dalam kegiatan yang dipusatkan di Samarinda itu, juga diserahkan penghargaan kepada PWI Cabang Jawa Tengah yang dinilai sebagai cabang dengan kinerja terbaik periode 2005-2006. Penghargaan diserahkan langsung oleh Tarman Azzam kepada Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo.

Menurut Tarman, prestasi yang dianggap menonjol di cabang Jateng antara lain kegiatan diskusi/seminar, pemberian asuransi wartawan, pemantauan pilkada oleh tim Mapilu , pengembangan perwakilan dan pembangunan Gedung Pers Jawa Tengah.

Menurut rencana Puncak Peringatan Hari Pers Nasional dan Konvensi media massa tahun 2008 akan diselenggarakan di Semarang. (ssk-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA