| Sabtu, 10 Februari 2007 | MURIA |
Wanita Amnesia Asal Semarang Dirawat di Sebuah Panti di BloraPANTI Karya Pamardi Karya Blora mendapat tambahan penghuni baru, yakni seorang wanita yang mengalami amnesia. Wanita itu dititipkan oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskesosnakertrans) Rembang, Kamis (8/2) lalu. Berdasarkan surat pengantar yang menyertainya, penghuni baru tersebut bernama Tasbiah (30), warga Tlogosari Semarang. Perawakannya kurus, tinggi 150 sentimeter, dan berat badan diperkirakan 45 kilogram. Rambutnya lurus dan pendek. Kata-katanya yang sering ngelantur, membuat pihak panti tidak yakin akan kebenaran identitas wanita tersebut. ''Kami tidak yakin 100 persen pada identitas yang tercantum dalam surat pengantar,'' ujar Kepala Panti Karya Pamardi Karya Blora, Sukiman, Jumat (9/2) kemarin. ''Kami akan mencoba terus memulihkan ingatannya, sehingga bisa menyebutkan nama dan di mana tempat tinggal dia sebenarnya. Dia sekarang lebih suka dipanggil Yuni.'' Jika diamati sepintas lalu, perilaku Tasbiah bagaikan manusia normal. Dia bisa melakukan aktivitas sehari-hari, tanpa dibantu seorang pun. Saat Suara Merdeka memasuki kamarnya, dia sedang sarapan pagi dengan menu nasi, sup, dan telur. Dia tampak gembira saat tahu akan difoto. ''Saya suka difoto seperti foto model,'' ujarnya. Namun, kalau diamati secara seksama, jawaban yang dia kemukakan sering ''tidak nyambung'' dengan pertanyaan. Dasarnya Sehat ''Pada dasarnya dia itu sehat. Hanya, pikirannya mungkin tidak normal. Pada awalnya dia seakan mengerti pada apa yang kita tanyakan. Selanjutnya, dia lebih suka bercerita sendiri,'' kata Sukiman. Dia mengatakan, bukan kali ini panti yang dia asuh kedatangan pasien yang berperilaku seperti Tasbiah. ''Ini yang ketiga sejak saya menjadi kepala panti,'' tambahnya. Menurutnya, seorang pasien amnesia yang pernah ditampung di panti itu pada akhirnya berhasil dipertemukan dengan keluarganya. ''Saat datang di sini, dia juga berperilaku seperti Tasbiah,'' katanya. Hampir seminggu lamanya pihak panti berupaya melakukan pendekatan khusus, untuk memulihkan ingatannya. Dia diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Seluruh omongannya didengarkan dengan seksama. Dari perkataan yang sering keluar dari mulutnya, pihak panti menyimpulkan di Juwana ada anggota keluarga penghuni penderita amnesia itu. ''Kami menginventarisasi perkataan yang paling sering dia ucapkan, sehingga kami berkesimpulan dia punya keluarga di Juwana,'' Sukiman. Pihak panti pun membawanyat ke Juwana. Beberapa pondok pesantren didatangi, karena sebelumnya wanita amnesia itu berulangkali menyebut nama pesantren di kota itu. Namun, tidak satu pun pengasuh dan pengurus pesantren mengenali dia. ''Hampir satu hari kami keliling Kota Juwana untuk mencari pihak-pihak yang barangkali mengenalinya. Wanita itu kami ajak makan di sebuah warung di alun-alun Juwana,'' katanya. Dan tiba-tiba saja ingatan wanita tersebut pulih. Dia menunjuk sebuah rumah, yang ternyata rumah neneknya. Singkat cerita, dia berhasil dipertemukan dengan sang nenek. Dia dari SD hingga SMP tinggal di rumah neneknya itu. Sukiman mengatakan, dia akan mencoba mengulangi keberhasilan tersebut untuk memulihkan ingatan Tasbiah. Meskipun wanita tersebut baru satu hari berada di panti yang terletak di jalan Blora-Rembang itu (tepatnya di Desa Ngampel, Kecamatan Blora), beberapa keterangan tentang latar belakangnya sudah diketahui oleh pihak panti. ''Data awal sudah kami peroleh. Kemungkinan, dia pernah sekolah di sebuah madrasah aliyah, namun tidak tamat. Dia pernah berumah tangga. Namun dia berpisah dengan sang suami,'' katanya. (Abdul Muiz-58) |