| Sabtu, 10 Februari 2007 | SEMARANG |
Sampah di Salatiga 380 Ton/HariSALATIGA- Volume sampah dari Kota Salatiga yang masuk di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, Dusun Ngronggo Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Salatiga, mencapai 380 ton/hari. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang kurang dari 100 ton/hari. Bertambahnya volume sampah tersebut akibat peningkatan jumlah penduduk, keluarga, dan bertambahnya pemukiman baru, sehingga pengelolaan sampah semakin pelik. Kabid Kebersihan Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) Drs Tedjo Supriyanto MM didampingi Kepala Kantor Inkom Drs Petrus Resi MSi mengungkapkan, meski volume sampah telah mengalami peningkatan tetapi TPA Ngronggo masih mampu menampung sampah yang datang. ''Berapa pun jumlahnya, sampah dari Salatiga diprediksi tetap dapat ditampung di TPA,'' kata Tedjo, kemarin. Sistem control landfill yang digunakan untuk mengolah sampah di TPA dinilai mampu mengurangi jumlah sampah yang ada. Menurutnya dengan sistem control landfill, sampah yang telah dipadatkan diuruk lagi. Sehingga sampah ada organik yang menjadi kompos dan dapat dikonsumsi untuk pertanian. ''Sudah ada pertanian yang menggunakan kompos dari TPA.'' Agar tidak terjadi ledakan gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah di TPA Ngronggo, disediakan pipa cerobong pada tumpukan sampah. Diakuinya, sistem tersebut bukan yang terbaik tetapi setidaknya dapat mengurai dan memanfaatkan sampah menjadi kompos. Disinggung kendala dalam pengelolaan sampah selama musim hujan, Tedjo mengatakan tidak ada permasalahan. Namun musim hujan mengakibatkan jalan yang ada di tengah TPA berlumpur dan rusak, sehingga susah untuk dilalui kendaraan. Di sisi lain, permasalahan lain adalah pada musim hujan, sampah yang diangkut semakin berat akibat tambahan beban air. Meski demikian kegiatan tetap berjalan normal. Menurutnya, akibat makin meningkatnya sampah rumah tangga dan pasar, pihaknya telah memutuskan untuk tidak lagi mengangkut sampah dari pemukiman yang masuk wilayah Kabupaten Semarang, seperti di Seraten, Kecamatan Tuntang. Hal itu terpaksa dilakukan karena sampah yang dihasilkan oleh warga Salatiga sudah melebihi kapasitas pengelolaan oleh DPLH di TPA Ngronggo seluas lima hektare. (H2-16) |