| Sabtu, 10 Februari 2007 | SEMARANG |
In Memoriam Totok MintartoPria yang Murah SenyumKOTA Salatiga dirundung duka setelah meninggalnya Wali Kota H Totok Mintarto (56) akibat penyakit dalam yang dideritanya selama ini. Siapa yang menyangka, jika Wali Kota yang terpilih untuk kali kedua dalam Pilkada Mei 2006 lalu itu mengembuskan napas terakhir di RS Kariadi, Jumat (9/2) dinihari sekitar pukul 03.30. Bapak enam anak yang lahir di Cepu 29 November 1950 itu, merupakan pria yang dikenal murah senyum kepada siapa saja. Senyumnya yang khas memang tidak bisa dilupakan. Sejumlah kegiatan hasil pembangunan semasa menjabat, terasa hingga di seluruh pelosok kota yang berpenduduk lebih dari 176.000 jiwa tersebut. Dibuktikan dengan adanya jalan-jalan penghubung lintas kelurahan yang seluruhnya dalam kondisi baik. Lalu sejumlah fasilitas kota dan kegiatan investasi juga telah mengalami perkembangan yang cukup pesat selama memimpin Salatiga, meski masih ada kekurangan. Keberhasilan itu di antaranya terbangunnya kompleks Shopping Centre Salatiga, pertokoan Makutarama, terwujudnya tahap awal jalur alternatif Jalan Lintas Selatan, berdirinya sejumlah mal dan hotel megah, dilengkapinya fasilitas RSUD Salatiga, serta berdirinya rumah sakit lain. Berdiri pula sejumlah perusahaan baru di Salatiga seperti pabrik kosmetik dan susu. Operator SPBU Istri dari Devi Herlina itu merupakan alumnus SMAN 1 Salatiga. Setelah lulus tahun 1960-an, kemudian merantau ke Jakarta untuk mengubah nasib. Murdiyatno (52) adik Totok mengungkapkan, jika kakaknya telah menjadi tulang punggung keluarga sejak ayah mereka Tarmijan meninggal tahun 1960-an. Totok awalnya bekerja sebagai operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta milik seorang pengusaha sukses pada 1970. Berkat kejujuran dan keuletannya, dia dipercaya memegang beberapa SPBU. Tahun 1992 Totok dipercaya sebagai Direktur Utama PT Rasuma Ditama Jakarta, dan menjadi pemimpin perusahaan Tabloid Kendali dan Toentas Jakarta. Pada tahun 1990-an nama Totok Mintarto mulai muncul sebagai warga Salatiga yang cukup sukses dalam bisnis usaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta. Dia aktif pula dalam organisasi sosial seperti Paguyuban Warga Salatiga (Pawarsa) di Jakarta dan menjadi ketuanya yang pertama. Selain sebagai seorang pengusaha, Totok juga aktif di berbagai organisasi seperti Ketua Komisariat Pemuda Panca Marga (PPM), Bendahara Umum Pemuda Pancasila (PP), Ketua DPP Ikatan Pengemudi Profesi Indonesia (IPEPRI), dan Ketua Bidang SPBU Hiswana Migas DKI Jaya. Pada awal tahun 2000, Totok mendapat dukungan dari sejumlah elemen masyarakat, termasuk Pawarsa, untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota. Ternyata dukungan itu tidak sia-sia, bersama pasangannya John Manoppo SH, dia akhirnya terpilih menjadi Wali Kota Salatiga periode 2001-2006. Mulailah Totok, yang memiliki latar belakang pengusaha menjadi orang nomor satu di Kota Salatiga yang hanya memiliki empat kecamatan, 22 kelurahan, serta luas wilayah 5.678,110 hektare atau 56.781 km2 itu. Untuk membuktikan konsentrasinya sebagai Wali Kota, dia melepas beberapa SPBU miliknya, sedangkan tiga SPBU dikelola adiknya Murdiyatno. Dari keterangan beberapa orang dekatnya, sejumlah SPBU dijualnya karena dia lebih memilih berkonsentrasi di pemerintahan. Sejumlah keberhasilan Totok Mintarto dalam membangun Kota Salatiga, menjadi bukti untuk mencalonkan kembali sebagai Wali Kota. Pasangan Totok Mintarto-John Manoppo (Tom-John) akhirnya terpilih kembali dalam Pilkada Salatiga Mei 2006. (Surya Yuli P-16) |