| Sabtu, 10 Februari 2007 | SEMARANG |
Warga Berpakaian Adat Arak Tumpeng Agung
RATUSAN warga dengan pakaian adat Jawa tampak antusias mengarak sebuah tumpeng agung. Mereka yang tinggal di sekitar Danau Rawapening berjalan perlahan dari Candi Dukuh Bukit Brawijaya menuju Bukit Cinta. Aneka gamelan dan kesenian rakyat juga ditampilkan dalam kegiatan Larung atau Sedekah Rawapening yang sejak 2005 dikemas menjadi agenda budaya ini. Tahun ini, acara tersebut berlangsung sederhana. Jika pada dua tahun lalu digelar wayang kulit, kali ini cukup dengan sesaji tumpeng yang berisi aneka rupa makanan, buah, dan hasil bumi rakyat setempat. Meski sederhana, pada perayaan setiap malam 21 Sura kali ini para tamu yang hadir lebih meriah dari sebelumnya dan berasal dari berbagai kalangan. Kamis (8/ 2) malam, tampak hadir Kanjeng Gusti Ratu Alit dari Keraton Surakarta, Lia Hermin Putri dari sanggar supranatural Songgo Buwono Parangkusumo Yogyakarta, KRM Haryo Abios G Abiyoso trah PB VI, Rara Rumiyati Ajang Mas dalang kelangenan Cendana Jakarta, Erna Santosa artis ibu kota, paguyuban pencak silat Merpati Putih, dan paguyuban dalang Purworejo. Panji yang berasal dari Solo dan enam tahun tinggal di tengah Rawapening menjelaskan, arti penting ritual ini merupakan manifestasi rasa syukur atau terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. ''Warga sekitar Rawapening percaya bahwa danau ini ada yang mbaureksa. Karena merasa mendapat nafkah dari rawa mereka akhirnya mengadakan ritual,'' jelas dia. Setiap tahun kegiatan ritual ini cukup ramai dan mendapat sambutan antusias dari warga. Kemudian acara dikemas menjadi sebuah tradisi yang menyedot animo warga sekitar. ''Acara ini sekaligus nguri-uri kebudayaan Jawa. Tumpeng agung yang dipersembahkan ke tengah rawa merupakan eja wantah permintaan doa kepada Yang Agung,'' terang Panji yang dikenal sebagai paranormal di danau tersebut. Masyarakat Desa Kebondowo, Rowoboni, Tegaron, Kebumen, dan sekitarnya tampak antusias menyaksikan acara ini hingga malam hari. Menyalakan Obor Pada tumpeng agung ini terdapat tujuh belas obor yang berada di sisi pinggir dan tengah. Tujuh belas atau dalam bahasa Jawa pitulas ini dimaknai pitulungan kanthi welas. Obor tersebut kemudian dinyalakan oleh sejumlah tamu kehormatan. Penyalaan obor diawali oleh Bupati Semarang yang dalam hal ini diwakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Semarang Drs Soeparwadi. Begitu semua obor menyala, alunan gamelan Jawa sederhana pun mengalun. Sejumlah warga lalu mengusung tumpeng agung tersebut menuju tengah danau dengan perahu. Saat larungan itu, air danau diyakini berkhasiat. Soeparwadi menjelaskan, sebelum 2005, larungan hanya dikemas seadanya. ''Sejak 2005 kami kemas menjadi atraksi budaya yang cukup menarik,'' tuturnya. Menurut dia Rawapening sudah dikenal di seluruh wilayah. Persoalannya, ia ingin ada semacam ruh kegiatan kehidupan Rawapening. Acara larungan dianggap sebagai salah satu jawaban untuk lebih mengenalkan seni, budaya, dan sosial warga seputar Rawapening. ''Melalui acara larungan ini orang yang dari waktu ke waktu tidak tertarik Rawapening diharapkan menjadi sudi melihat kembali kondisi Rawapening,'' terang dia. (Rony Yuwono-16) |