| Sabtu, 10 Februari 2007 | SEMARANG |
Positif Flu Burung, Diganti Rp 12.500SEMARANG - Para pemilik maupun penjual unggas menanggapi biasa saja dengan rencana pemerintah yang akan mengganti ungas milik warga yang positif flu burung dengan uang sebesar Rp 12.500 per ekor. Seperti pernah diberitakan Rabu (7/2), pemerintah dalam pemusnahan unggas milik warga yang positif flu burung akan memberikan ganti rugi, asalkan mereka menyertakan berita acara kematian, visum, adanya saksi pemusnahan dari unsur pemerintah, unggas yang mati betul-betul terjangkit flu burung. Supriyanto (30), penjual burung di Pasar Sampangan mengatakan, penggantian biaya seperti itu soal biasa. Menurut dia, asalkan pengurusannya mudah dia tidak masalah dengan pergantian tersebut. "Kalau untuk mendapatkan ganti rugi saya harus mengeluarkan biaya, ya percuma juga," katanya, Jumat (9/2). Dia menambahkan, jika ada unggas yang dijualnya mati akibat flu burung, apakah unggas yang masih hidup juga akan dimusnahkan dan diganti dengan uang sebesar Rp 12.500. "Jika hal itu harus dilakukan, saya mungkin pikir-pikir dulu. Sebab uang sebesar itu tidak sesuai dengan harga burung yang saya jual jauh lebih mahal itu. Satu-satunya cara, burung tersebut akan saya taruh di rumah," ujarnya. Dimusnahkan Anton (29), pemilik unggas di perkampungan Puspanjolo berpendapat sama dengan Supriyanto. Menurut dia, seandainya ada ayam peliharaannya yang terjangkit flu burung dan harus dimusnahkan, dia mengaku ikhlas. Sebab hal itu lebih baik dari pada ada tetangganya yang terjangkit virus. "Sebenarnya biaya ganti Rp 12.500 per ekor bukan masalah buat saya. Lebih baik unggas tersebut dimusnahkan dari pada membawa korban jiwa," katanya. Dia menjelaskan, untuk mengurangi penyebaran flu burung, pihaknya memilih mengandangkan unggas yang dipeliharanya. "Apalagi Pemkot telah mengimbau kepada masyarakat agar tidak melepaskan hewan tanpa ada pengawasan dari pemiliknya," katanya. (ric-18) |