| Sabtu, 10 Februari 2007 | KEDU & DIY |
Pemulung di TPSA Gunungtumpeng (2-Habis)Mereka Diajak Beternak Sapi dan KambingLAHAN untuk tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) Gunungtumpeng, Jetis, Loano, bisa dikatakan luas, yakni sekitar dua hektare. Batas tanahnya dipasang pagar keliling. Keberadaan TPSA di desa itu menimbulkan ide bagi salah satu warga Purworejo, Drs Subkhan, untuk beternak. Pria yang juga menjabat Pengawas Pendidikan Menengah pada Dinas Pendidikan itu tergugah beternak karena sejak masa kecil ia terbiasa memelihara hewan ternak milik orang tuanya. ''Saya melihat tempat sampah bisa dimanfaatkan untuk beternak. Maka saya punya tekad yang bulat,'' kata pria asal Cepiring, Kendal, itu. Mulanya dia mencoba beternak kambing yang dibeli dari pasar hewan Purworejo. Selama beberapa bulan, kata dia, ternyata ada yang mampu bertahan, dan sebagian mati. Hasil pengamatan dia, kambing yang mati rata-rata umurnya di bawah tiga bulan. Kambing muda yang dipelihara di TPSA, kata dia, ada sebagian yang lumpuh dan buta matanya. Menurut perkiraan dia, hal itu lantaran tidak kuat terhadap biogas yang dikeluarkan sampah. Maka, bagi kambing yang matanya tidak bisa berfungsi dengan baik, dimintakan obat ke mantri ternak. Setelah diberi obat berbetuk salep, lanjutnya, ada yang bisa sembuh dan ada yang malah buta. Selain obat mata, juga ada obat yang harus dimasukkan melalui mulut. Gara-gara sering nyekoi kambing, jari tangan dia pernah digigit kambing hingga infeksi. Usaha yang dirintis sejak tahun 2000 itu pada awalnya rugi. Tetapi, berdasarkan pengalaman selama bertahun-tahun, akhirnya dia mampu mengembangkan ternak kambing dan sapi di sana. Seingat dia, ternak milik dia pribadi pernah mencapai puncak. Sapinya pernah berkembang sampai 15 ekor, dan kabing 35 ekor. Usaha ternaknya itu berakhir ketika ada larangan beternak di TPSA. Sejak adanya larangan tersebut, seluruh sapi dan kambingnya dijual. ''Saya bisa membeli mobil ya hasil dari menjual ternak di TPSA,'' kata Subkhan. Ajukan Izin Terdorong oleh hobi memelihara ternak, akhirnya dia memiliki gagasan beternak lagi dengan didasari izin dari para pejabat. Untuk itu, dia meminta izin Bupati H Kelik Sumrahadi, Ketua DPRD Angko Setyarso Widodo, dan Dinas Kimprasda. Dan saat ini, kata dia, rekomendasi dari para pejabat terkait sudah di tangannya. Berbekal izin tersebut, saat ini dia memelihara satu ekor sapi dan lima ekor kambing. Selain itu, Ketua DPRD Angko Setyarso Widodo juga menitipkan dua ekor sapi. Seluruh hewan ternak tersebut sengaja dibeli dari TPSA di Semarang. Dengan pertimbangan agar tidak perlu masa penyesuaian hidup di tempat sampah. Yang beda dengan usaha Subkhan sebelumnya, saat ini hewan ternak tersebut digaduhkan kepada para pemulung. Sistem yang digunakan adalah bagi hasil 50:50. Bagi hasil dilakukan kalau hewan ternaknya sudah punya anak. Hasil penjualan anak hewan ternak dibagi dua. Untuk mengembangkan usaha peternakan di TPSA, Subkhan sudah membuat rencana matang. Dia mengaku sudah mengajukan permohonan bantuan kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Erman Suparno. Dia meminta bantuan Rp 252,6 juta untuk membeli 50 ekor sapi. Rencana dia, kalau dana itu cair akan benar-benar dimanfaatkan untuk beternak sapi di TPSA. Untuk menopang rencana itu dia sudah membentuk Paguyuban Pengelola Sampah Kabupaten Purworejo (PPSKP) dan dia sebagai ketuanya. Kalau usaha peternakannya berjalan, dia merencanakan membuka usaha pembuatan pupuk kompos dan penghijauan. Sebagai kelanjutan program, dia akan mengoordinir seluruh pemulung se-Purworejo. Dengan tujuan agar dapat membina para pemulung yang berkeliaran di kampung-kampung. Dia akan membina pemulung yang nakal. Minimal untuk menghilangkan predikat bahwa pemulung kadang juga mencuri. ''Selama ini pemulung kan kesannya maling. Padahal yang nyambi maling tidak semua pemulung,'' katanya. Ketua DPRD, Angko Setyarso Widodo, yang kemarin meninjau TPSA berpendapat masalah kesehatan pemulung perlu diperhatikan. Sebab setiap hari mereka bergelut dengan limbah sampah. Dia ingin ada petugas kesehatan yang mengontrol kesehatan mereka secara rutin. Selain itu, dia ingin ada bangunan untuk memilah-milah sampah. Selama ini mereka mendirikan bedeng-bedeng kecil yang kumuh dan kotor. Dia berjanji akan mengupayakan pendirian bangunan untuk memilah-milah sampah. (Eko Priyono-24) |