logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Februari 2007 KEDU & DIY
Line

Gempa Mengguncang Yogyakarta Lagi

YOGYAKARTA-Warga Yogyakarta dan sekitarnya, Jumat (9/2) dini hari kembali diguncang gempa. Gempa terjadi saat warga tidur lelap pada pukul 02.31.

Peristiwa itu sempat membuat warga panik dan terbangun. Begitu kuatnya goncangan menjadikan sebagian besar mereka berhamburan keluar rumah sambil memukul kentongan.

Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi pada Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, Tyar Prasetyo, pusat gempa berada pada 110,22 bujur timur dan 7,94 lintang selatan dengan kekuatan 3,1 skala richter.

Kepanikan warga, kata Tyar, sangat wajar karena pusat gempa berada di daratan tepatnya di sebelah selatan Kota Bantul dengan lama goncangan hingga 60 detik. Sehingga goncangan itu sangat terasa.

''Pusat gempa memang ada di darat seperti gempa 27 Mei 2006 lalu. Selain warga Bantul, gempa juga dirasakan oleh sebagian besar warga di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Klaten bahkan hingga Purworejo," katanya.

Patahan Opak-Oyo

Dikatakan, gempa itu merupakan rangkaian dari gempa 27 Mei tahun lalu berasal dari patahan Opak-Oyo. Masyarakat yang merasakan gempa panik. Mereka lari berhamburan keluar rumah karena khawatir rumah mereka roboh sepeti gempa tahun lalu.

''Goncangannya berlangsung cukup lama dan sangat kuat. Saya dan keluarga langsung lari keluar rumah. Tetangga saya ternyata juga lari berhamburan ada yang memukul kentongan," kata Heru Sutarjo (42) perangkat Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.

Menurut Heru, setelah peristiwa itu dia tak bisa melanjutkan tidurnya. Selaku perangkat desa, kata Heru, dirinya lantas melakukan pendataan terhadap warganya.

''Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada laporan kerusakan rumah atau korban," tambahnya.

Ainun Najib (29) warga Desa Pundong II Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul yang rumahnya roboh akibat gempa 27 Mei lalu mengaku juga lari keluar rumah.

Dia lari keluar rumah sambil menggendong anaknya yang masih balita. Sedang istrinya, sempat berteriak-teriak panik.

''Warga di sini masih trauma jika terjadi guncangan seperti itu. Gempa tahun lalu banyak warga di sini yang meninggal dunia, sehingga semua menjadi panik, apalagi banyak rumah yang direnovasi belum selesai takutnya roboh lagi," katanya. (H33-39)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA