| Sabtu, 10 Februari 2007 | BUDAYA |
Cedric, DJ Prancis yang GarangUNTUK ukuran seorang disk jockey (DJ), Cedric Lass boleh dikata berperangai dingin di panggung. Mimik mukanya tak memunculkan banyak ekspresi. Bule kelahiran Chambery lyon, Prancis, tahun 1982, itu cuma sesekali melesatkan pandangan mata ke pengunjung yang menikmati kepiawaiannya. Sekilas dia berkesan tenang, bahkan cenderung kalem. Itu berbanding terbalik dengan jari-jemarinya di atas piringan hitam. Kamis (8/1) malam, dia unjuk kegarangan bermusik di Club 123 Semarang. Itulah penampilan dia kali pertama di klub yang berada di Jalan Piere Tendean 22, Semarang, tersebut. Bahkan kali pertama di Indonesia. Padahal, Cedric Lass tak cuma kerap tampil di sudut berbagai kota di Prancis. Swiss dan Rusia adalah dua negara yang tempat dia acap tampil. "Meski baru sekali, sayasenang main di Indonesia," ujar Cedric. Dia pernah tampil dalam perhelatan di private party Christian Dior di Paris, St Tropez, Monaco, Cannes, Courchevel, Biaritz. Namun itu tak membuat dia berpuas hati. DJ yang pernah memenangi The Regional Championship of House Music, Paris, tahun 2005 itu pun sudi mampir ke Indonesia. Mengesankan Ratusan pengunjung di Club 123 beruntung. Sebab, belum tentu kelak Cedric bisa unjuk kepiawaian lagi di Semarang. Dan malam itu, DJ yang memulai debutnya pada umur 16 tahun tersebut tampil mengesankan sekitar satu jam. Penampilan singkat itu lebih dari cukup bagi penonton. Lihatlah, selama satu jam itu mereka tak henti-henti menggerakkan tangan, kaki, dan kepala. Ya, mereka bergoyang tanpa berkesudahan. Sesekali terdengar seruan histeris, pertanda pengunjung suka. Mereka begitu menikmati sajian Cedric yang menyembunyikan kegarangan.(Fahmi Z Mardizansyah-53) |