| Sabtu, 10 Februari 2007 | BUDAYA |
Noh, Ekspresi TotalNoh telah berusia sekitar 700 tahun. Maka, bukan bermaksud jumawa jika masyarakat Jepang mengklaim seni tradisional itu sebagai nenek moyang drama musikal Hollywood. Atau, mungkin, klaim itu cuma ungkapan kecintaan teramat sangat. Kamis (8/2) malam, repertoar Hogoromo dan Sakkyo dipentaskan di pendapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kedua lakon itu sangat populer. ''Ini kesenian resmi keshogunan Tokugawa,'' ujar Masuda Shozo, lektor kelompok kesenian yang berpentas atas fasilitas Japan Foundation itu. Agar tak berjarak dengan penonton yang masih awam, tarian yang dibawakan disertai pengantar tentang cerita dan bentuk sajian. Tak cukup dengan itu, di sela-selanya muncul pula penjelasan lebih detail. ''Kami ingin memperkenalkan secara total ekspresi, lingkungan budaya, dan sejarah noh,'' ujarnya. Di balik serangkaian gerak dan komposisi musik dari instrumen fue (suling), ko-tsuzumi, oo-tsuzumi, dan taiko (semacam kendang dalam berbagai ukuran) ada berbagai hal yang patut dicatat. Begitu pun tema pakaian bidadari pada Hogoromo dan singa di jembatan batu pada Shakkyoo. Minimalis Apa saja yang menarik? Lihatlah, gerak tarian yang berkesan minimalis. Ruang dalam pengertian gerak tubuh begitu rapat. Barangkali sama minimalis dengan komposisi musiknya. Ungkapan bunyi tetabuhan kendang lebih didominasi jeda keheningan. Namun hal itu tak meninggalkan karakteristik ketokohan. Misalnya, tarian bidadari masih terlihat feminim. Feminitas itu muncul dari seorang penari yang sebenarnya laki-laki. ''Semua penari dalam noh memang laki-laki. Mereka harus bisa menarikan apa saja,'' ujar Masuda. Pembuatan instrumen musiknya juga menarik. Ada sebuah kendang yang membutuhkan waktu 20 tahun untuk memunculkan bunyi ideal. Teknis tabuhan pun cukup rumit. Sebab, ruang gema cukup kecil dan harus diatur dengan menarik dan mengulur tali yang sekaligus jadi pengikat. Seni tradisi yang berkesan rumit itu tetap terjaga, menembus zaman beratus tahun lamanya. Juga tak ada nama kelompok di wilayah seni itu karena penari dan musikus berstatus mandiri. Tak mengherankan jika Unesco memberikan anugerah pada noh sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Itulah penghargaan yang diberikan pula pada wayang Indonesia. (Wisnu Kisawa-53) |