logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 10 Februari 2007 BANYUMAS
Line

Buruh Sadap Kembangkan Bibit Karet Rakyat

TANAMAN karet yang digelutinya sehari-hari ketika masih menjadi buruh sadap getah di perkebunan justru mendatangkan inspiragi bagi Gunadi. Dia bekerja sejak tahun 1977 hingga 1985 sebagai buruh sadap. Selain itu, ia juga sering membantu membuat bibit karet. Lama-kelamaan, ia pun semakin ahli di bidang yang digelutinya itu.

"Akhirnya, saya memutuskan berhenti kerja karena ingin menekuni tanaman karet," tutur Gunadi (50), warga RT 8 RW 17, Grumbul Cimarong, Desa Bantar, Kecamatan Wanareja, Cilacap.

Selepas dari perkebunan karet, ayah dua anak itu membuat sekitar 1.000 bibit karet untuk ditanam di lahan miliknya. Kini tanaman penghasil getah perca itu setiap bulan menghasilkan 4 - 5 kuintal karet sheet (lembaran karet yang sudah dikeringkan). Harga jual paling rendah Rp 11.000/kg dan harga tertinggi Rp 16.500/kg. Padahal produk karet sheet pada awal panen tahun 1990 hanya Rp 3.000 - 4.000 per kilogram. "Saya bisa lebih tekun meski harus menjalani lebih dari 20 tahun setelah berhenti sebagai penyadap getah."

Pembuat Bibit Resmi

Dia juga mengakui, untuk membuat bibit karet berkualitas harus meminta bibit Gondang Tapen (GT) dari PT Perkebunan Nusantara di Panenjoan, tidak jauh dari rumahnya. Bibit indukan untuk entres itu terus ia kembangkan. Para tetangganya pun banyak yang berminat ingin mengikuti jejak Gunadi. Selanjutnya, ia meminta izin lewat koperasi karet untuk memperoleh kewenangan membuat bibit karet berkualitas. "Saya juga mengurus agar bisa diakui sebagai pembuat bibit yang resmi dan bisa dipertanggungjawabkan."

Saat ini, lanjut Gunadi, dia masih tetap membuat bibit karet dan banyak menerima pesanan bibit dari petani. Bibit yang langsung dicabut dari lahan persemaian ia jual Rp 3.500/batang. Bibit itu baru berumur enam bulan dengan diameter 2-3 sentimeter. Pembelinya adalah petani setempat, terutama dari Desa Palugon, Cigintung, dan Grumbul Cimei, Desa Bantar.

Petani luar desa justru lebih tertarik untuk membeli bibit dalam polybag dengan harga Rp 8.500/batang. Bibit itu banyak dipesan petani karet dari Wonosobo dan Brebes. Meski hanya membuat bibit pada bulan Maret, ternyata petani yang memesan bibit semakin banyak. Untuk tahun 2008, dia sudah menerima pesanan 5.000 batang. "Saya harus menyiapkan lebih awal agar tidak mengecewakan konsumen."

Gunadi yang bermula sebagai buruh sadap getah karet sambil berjualan kambing dan pete itu kini sudah menikmati hasil kerja kerasnya sebagai petani karet rakyat. Dia juga kian dikenal di kalangan petani sebagai pembuat bibit karet yang andal walau tinggal di daerah terpencil. (Anton Soeparno-71)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA