| Senin, 05 Februari 2007 | SALA |
Upaya Pemkab Cegah DBD Dinilai Kurang
SUKOHARJO - Para keluarga korban demam berdarah dengue (DBD) di Sukoharjo menilai upaya DKK setempat dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut sangat kurang. Sebagaimana dikeluhkan Arif Himawan (33) warga Dukuh Pagelaran, Desa Kartasura. Di mana anak pertamanya, yaitu Reviana Aulia Rahma (4) meninggal, Rabu (31/1) malam. Keluhan serupa juga diungkapkan keluarga Suparno (43) warga Desa Gedong, Sonorejo. Salah seorang anak keluarga itu, yaitu Triyono (21), meninggal akibat menderita shock syndrom dengue. ''Mungkin kalau penanganan dari DKK optimal, jiwa anak kami bisa diselamatkan. Meski kami meyakini bahwa hidup dan mati itu Tuhan yang menentukan,'' katanya. Namun tudingan itu dibantah Kepala DKK dokter Suryono MKes. ''Kami sudah menyatakan bahwa serangan DBD merupakan kejadian luar biasa (KLB) di tingkat desa. Adapun desa yang dinyatakan KLB adalah Desa Manang (Grogol), Jatingarang (Weru), Mandan (Sukoharjo), Sraten (Gatak), dan Pundungrejo (Tawangsari),'' tegasnya. DKK mendapat dana APBD 2007 sebesar Rp 751 juta. Dari jumlah sebanyak itu, Rp 306 juta untuk fogging. Fogging Gratis Setiap kali fogging dibutuhkan Rp 1,075 juta untuk membeli solar, bensin, upah tenaga, abatisasi selektif, dan lainnya. Untuk membeli insektisida Rp 625.000. ''Fogging gratis tetap akan kami lakukan di daerah yang telah ditemukan kasus." Upaya untuk mencegah agar korban jiwa tidak bertambah, Jumat (2/2), dilakukan fogging di Dukuh Pagelaran, Desa Kartasura, di mana sudah ada korban jiwa yaitu Riviana Aulia Rahma, putri pertama Arif Himawan. Begitu pula di Dukuh Gedong, Desa Sonorejo, karena salah satu warga yang tinggal di dukuh itu juga meninggal akibat DBD. (G11-50) |