| Senin, 05 Februari 2007 | SEMARANG |
Gerakan FPI Bersifat Reaksioner
SALATIGA- Buku karya Al Zastrouw berjudul ''Gerakan Islam Simbolik, Politik Kepentingan FPI'' dikupas dalam diskusi yang berlangsung di Aula Kampus STAIN Salatiga, Sabtu (3/2). Pro dan kontra keberadaan Front Pembela Islam (FPI) di Indonesia berkaitan dengan Islam, membuka tabir penyelesaian permasalahan sosial dalam masyarakat. Acara menghadirkan pengarang buku Al Zastrouw, Rektor IAIN Walisongo Semarang Prof Dr Abdul Jamil MA, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Yogyakarta Ustad Irfan Awwas, dan Dosen STAIN Salatiga Djuzan MHum. Dua pembicara menyayangkan karena dalam diskusi tersebut tidak menghadirkan tokoh FPI. Al Zastrouw mengungkapkan, gerakan FPI bersifat reaksioner dan dalam perkembangannya dapat menjadi ideal. Organisasi itu sekarang sudah berubah, karena memiliki AD/ART dan mekanisme organisasi yang jelas. ''Harapan saya dari buku hasil penelitian 1999-2001 itu dapat ditanggapi oleh masyarakat FPI agar mendapat keseimbangan secara akademik dan ranah sosial,'' kata orang dekat Gus Dur itu. Harusnya Diperluas Dia menjelaskan, tulisan tersebut seharusnya diperluas, khususnya berkaitan dengan disfungsionalisasi aparat pemerintah. Gerakan FPI mempunyai potensi yang besar untuk membantu melakukan transformasi sosial, karena dipimpin oleh para habaib. Irfan Awwas menjelaskan, buku itu miskin data dan memunculkan sejumlah pertanyaan mengapa FPI merupakan gerakan radikal. Apa karena pikirannya atau tindakannya? ''Jika radikalisme itu dinisbatkan karena tindakannya, bagaimana labeling itu dinisbatkan ke kelompok lain. Jangan-jangan penisbatan ini bersifat tidak adil,'' terangnya. Djuzan MHum memaparkan, FPI amar ma'ruf nahi mungkar didirikan oleh para habaib dan ulama, tetapi kenyataannya justru menghasilkan kekerasan. Namun, buku tersebut hanya menggambarkan sebagian kecil dari fenomena kegiatan FPI selama ini, sehingga hal itu tidak dapat digeneralisasi. Yang dilakukan FPI seperti sweeping, ada yang berdasarkan tindakan pribadi maupun anggota kelompok. Sementara Abdul Jamil melihat, gerakan FPI seperti model ''Rambo'' atau ''Robocop'' dalam merespons ketidakadilan dan kemaksiyatan. Seringkali gerakannya mendahului upaya penegakan polisi atau aparat. Terkait dengan kajian yang dilakukan oleh Zastrouw terhadap FPI dalam buku tersebut, merupakan pilihan yang tepat, karena analisis atas anatomi suatu gerakan sangat penting untuk memotret fenomena secara tepat. (H2-37) |