logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 05 Februari 2007 SEMARANG
Line

Demi Jerami, Rela Tempuh Puluhan Kilometer

MUSTOLEH (18), pagi itu terlihat ngos-ngosan. Peluhnya yang bercucuran, membasahi seluruh baju yang dikenakannya. Sambil menarik tali, dia mengikatkan segerumbul jerami pada sepedanya.

Setelah itu dia turun lagi ke pematang sawah yang sudah menguning. Menunggu beberapa saat, dia kembali menggulung jerami yang baru saja dipotong oleh petani. Lalu, dipanggulnya jerami itu menuju sepedanya. Hal itu dilakukannya setiap pagi.

Warga Desa Jangkungharjo, Kecamatan Brati itu, rela menempuh puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan jerami.

Hal yang sama dilakukan Paryo (70). Kakek warga Teguan, Kecamatan Grobogan itu, harus keluar rumah sehabis Subuh hanya mencari jerami untuk sapinya. Dengan sepeda onthelnya, dia mencari pematang sawah yang sedang dipanen. ''Daripada jerami terbuang sia-sia, lebih baik saya ambil untuk pakan sapi,'' katanya.

Kedua orang itu, setidaknya mewakili puluhan orang lainnya yang juga memanfaatkan jerami sisa panen. Setiap pagi menjelang siang, di sepanjang Jalan Semarang-Purwodadi pasti akan terlihat puluhan orang bersepeda sedang mengangkut jerami.

Tidak hanya sepeda onthel yang digunakan warga, tetapi sepeda motor sampai truk pun biasa disewa hanya untuk mengangkut jerami. Terkadang mereka tak menghiraukan arus lalu lintas, terutama laju bus yang kadang ugal-ugalan.

Mereka ini, ternyata bukan warga setempat. Seperti dikatakan Mustoleh, biasanya pencari jerami itu datang dari daerah-daerah jauh. Mereka rela nyepeda puluhan kilometer hanya untuk mendapatkan jerami.

Tidak Berebut

Dia sendiri bisa mendapatkan jerami itu di pematang sawah di daerah lain tepatnya di Kecamatan Purwodadi. Jarak rumahnya dengan sawah yang dia dapatkan jerami lebih dari lima kilometer. Dan keesokan harinya, sudah barang tentu dia akan pindah tempat lagi, mencari lokasi sawah yang baru dipanen.

Beruntungnya, dalam mendapatkan jerami itu antara pencari satu dengan lainnya tidak saling berebut. Terlebih dulu, mereka melihat aktivitas memanen padi. Setelah itu didekati orang yang sudah memanen, lalu meminta izin mengambil jeraminya.

''Tidak mungkin antara kami saling berebut, sawah seluas ini sudah cukup untuk pakan sapi,'' katanya Mustoleh.

Setidaknya saat datang musim panen, dia bisa bernafas lega. Sebab Mustoleh tidak kesulitan mencari pakan. ''kalau sudah tidak ada panen, terpaksa saya cari-cari lahan yang masih ada rumputnya. Tapi untuk sekarang ini susah,'' katanya. (Dicky Priyanto-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA